Wednesday, September 28, 2016

GERAKAN SEJUTA PENABUNG CERDAS


GERAKAN SEJUTA PENABUNG CERDAS
-BAHKAN BISA LEBIH DARI SEJUTA-

Indonesia adalah negara besar, dengan penduduk melebihi 250 juta jiwa di tahun 2016.
Menurut Forbes, negeri ini menduduki peringkat Ke-93 sebagai Negara Terbaik untuk Berbisnis. Silakan klik DISINI

Sebuah potensi besar untuk menjadi negar maju, bukan lagi negara berkembang. Oleh karena itu dibutuhkan cara pandang yang sama seperti negara-negara maju di dunia yang ada sekarang ini.
Harapan terdekat minimal sama seperti negara tetangganya, Singapore "The Perfect Country."

BAGAIMANA CARANYA ???
Rakyat Indonesia, utamanya mereka yang sudah mampu mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan, atau warga yang sudah ber-KTP Indonesia HARUS BERUSAHA SEKUAT TENAGA menjadi INVESTOR. Apakah bisa ??? 
BISA, SANGAT BISA SEKALI

CARANYA DENGAN BERSATU 
DALAM KOMUNITAS INVESTOR

Tidak harus punya uang ratusan juta atau milyaran rupiah di awal, menjadi Investor Komunitas adalah Membangun Super Team, bukan menjadi Superman !!! Kerjasama atau Kemitraan.

Dengan siapa kita kerjasama ??? 
Dengan lembaga di negeri sendiri dan yang sudah teruji oleh waktu dan mendapatkan pengakuan yang kuat secara hukum di Indonesia, minimal sudah 10 tahun atau lebih. Lalu program yang dijalankan juga sudah sangat matang dalam Sistem Operasionalnya.

Berapa yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk 
menjadi Investor Komunitas dalam Kemitraan ?
Kalau Anda bisa lakukan harian, disiplin menyisihkan uang Anda sebesar Rp 12.000,- per hari.
Kalau tidak rajin harian, sisihkan Rp 350.000,- di awal Anda menerima gaji bulanan.

Mau Menjadi Bagian 1.000.000 Penabung Cerdas
dan Mau Tahu Langkah Selanjutnya ...

SILAKAN HUBUNGI NOMOR TELEPON DI BAWAH INI atau INBOX :
0812-3989-3980 atau 0819-3669-9019 (WA)

Tahukah Anda ???
di Pulau Bali, ada PELUANG EMAS bagi Anda untuk menjadi salah satu dari 650 orang yang berhak mendapatkan gaji bulanan lebih dari Rp 200.000.000,- per Bulan

JANGAN TUNDA WAKTU ANDA UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN BESAR !!!
Mari Jadikan Indonesia Negara Maju !!!



Friday, September 18, 2015

5C Quality

Petikan dari Buku “There are Always CHANCES Selalu Ada Kesempatan” Page 14-17

Ada istilah populer di Singapura yaitu 5C. Semua C ini sifatnya duniawi, ibaratnya hanya sekejap mata berkedip. Apa saja sih 5C itu?

1.         Certificate : punya sertifikat Sarjana, Master, atau Doktor. Untuk beli rumah ada sertifikat, bahkan jadi Guru Zen pun ada yang bertanya-tanya apakah punya sertifikat atau tidak. Ada orang yang sampai gantung diri meninggal sia-sia gara-gara Rektor memberi vonis dia tidak bisa wisuda karena proyek helikopter mini belum sempurna dibuat sebagai pra-syarat kelulusan di kuliah tekniknya.

2.         Condominium : rumah yang dibeli sendiri, bukan hadiah atau subsidi pemerintah. Semua bangunan milik sendiri, dibangun dengan desain dan tukang yang dibayar sendiri.

3.         Car : mobil dan/atau sepeda motor yang dibeli sendiri dan selalu haus untuk berganti model, warna, fitur-fitur, dan sebagainya. Bahkan ada yang sudah punya sepeda motor sudah bagus dari pabriknya masih diakalin mati-matian diganti ban, ganti lampu, ganti jok, ganti klakson, ganti stiker, ganti bodi, ganti rantai, mungkin sampai ganti mesin! Habis puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk benda yang tidak bisa dipakai ratusan tahun. Hadeeeh !!!

4.         Credit Card : mempunyai kartu kredit. Kalau tidak punya kartu kredit merasa gengsi dianggap orang tidak ngerti keuangan dan kurang pergaulan. Ada pula yang menjadi budak kartu kredit karena mempunyai banyak sekali kartu kredit. Bisa jadi semua bank besar ia miliki kartu kreditnya. Boleh-boleh saja punya kartu kredit, tapi harus dikelola dengan baik agar penggunaan benar-benar ditujukan untuk kebutuhan, bukan sekadar memenuhi gengsi gaya hidup saja.

5.         Club : mengikuti keanggotaan prestisius, misalnya agar di bandara bisa menunggu di ruangan khusus, ikut klub mobil mewah tapi lebih sering menghabiskan bahan bakar untuk touring alias sekadar jalan-jalan. Memang sah-sah saja, tapi ingatlah semua itu tidak akan dibawa serta setelah nafasnya putus selama-lamanya.

Zaman sekarang, Anda malah butuh C yang Ke-6: Anda mesti kelihatan cute-imut. Makin imut, makin besar peluang Anda.

Lalu apakah yang 5C meditasi Chan?

1.        CLARITY : Kejernihan. Sesungguhnya ini bukanlah masalah apa yang Anda miliki yang memberi Anda kesempatan, namun sejernih apa Anda, sesadar apa, sebanyak apa Anda ketahui. Seberapa jernih kita, sekadar itulah kita memahami. Makin kita memahami, makin banyak yang kita ketahui. Kejernihan itu adalah kedalaman dan cakupan hal yang kita lihat. Lalu, dengan kejernihan kita akan menjadi lebih tenang (calm).

2.        CALM : Ketenangan. Ini mencerminkan kekuatan dan keseimbangan. Ketika kita tidak punya ketenangan, kita mudah terusik oleh lingkungan di luar dan emosi negatif di dalam. Jadi untuk bisa mencapai tujuan Anda, kita perlu menjadi jernih dan tenang di dalam agar bisa mengatasi masalah perbedaan, rintangan. Anda sukses dengan ketenangan jika Anda tidak terpengaruh, namun itu saja tidak cukup.

3.        COMPASSION : Kewelasan. Kadang dalam upaya untuk mencapai tujuan, kita terlalu keras dan kita terlalu memaksakan diri kita sendiri. Jadi kita harus memiliki kewelasan bagi diri kita sendiri sehingga Anda mencapai kejernihan bagi diri Anda, hubungan Anda. Jadi untuk mencapai tujuan kita dalam hidup, kita harus realistik terhadap tujuan itu sendiri. Pemahaman itulah yang dibutuhkan agar selama kita mencapai tujuan kita tidak menjadi terlalu fokus, terlalu keras atau memaksakan diri sendiri, melupakan diri sendiri, sehingga melukai diri kita atau orang lain. Karena itulah kita memerlukan kewelasan, terhadap diri sendiri dan orang lain.

4.        CULTIVATION : Pengembangan. Setelah kita Jernih, Tenang, dan penuh Kewelasan; Kita memerlukan pengembangan dengan ketekunan dan upaya. Apa maksudnya pengembangan itu? Kata ini berasal dari kata cultivar yang ibaratnya seperti menumbuhkan padi. Sama seperti benih padi yang tumbuhnya memerlukan berbagai faktor, misalnya: debit air, jenis pupuk, kondisi tanah, dan sebagainya. Pengembangan ini membutuhkan kesabaran. Zaman ini sepertinya banyak sekali yang serba instan, seperti: mi instan, kopi instan, teh instan, bahkan sampai bubur sudah ada yang instan. Kita ingin sukses secara instan. Kita ingin pencerahan secara instan. Untuk mencapai itu, kadang kita lupa bahwa kita membutuhkan faktor kesabaran. Dalam proses pengembangan, kita mesti memiliki kesabaran. Kesabaran juga memiliki kualitas lain yang disebut ketabahan atau kerelaan mencoba lagi dan lagi dan lagi. Secara bertahap kita akan terus maju. Berkembang setahap demi setahap. Menuju yang terakhir yaitu Kesempurnaan (Completeness-Lengkap secara Penuh).

5.        COMPLETENESS : Kesempurnaan. Sering kita sebut dengan lingkaran atau pusat, pusat kehidupan. Apakah yang ada di dalam dan di luar lingkaran ini? Dalam Chan atau Zen kita sering melihat gambar lingkaran. Kita memulai perjalanan dari sudut 0 derajat dan saat kita sudah melintasi satu lingkaran penuh 360 derajat, kita kembali ke 0 derajat. Jadi, apakah Anda kembali ke titik yang sama atau berbeda?

Apa yang membuat hidup kita itu penuh? Sering kita berpikir bahwa agar hidup kita penuh, kita perlu memiliki makin dan makin banyak. “Kalau saja mobil saya lebih baik, rumah saya lebih besar, kalau saja rumah saya lebih besar maka saya akan lebih bahagia, kalau saja… kalau saja… kita berharap, berharap, padahal harapan itu ada pada masa depan.”

Jadi, apa yang membuat hidup kita penuh? Seperti segelas air, kita harus mengisi terus kehidupan kita dan sampai satu ketinggian tertentu kita berhenti. Saat itu kita bisa mengatakan bahwa gelasnya setengah kosong atau setengah penuh.

Ketika baru-baru ini ada resesi ekonomi banyak orang berinvestasi pada perusahaan yang kemudian bangkrut. Banyak orang terpengaruh kejadian itu dan mengalami depresi. Banyak orang mengeluhkan seberapa banyak kerugian atau harta mereka yang hilang.

Kehidupan itu seperti segelas air. Kita bisa melihatnya setengah kosong atau setengah penuh. Itu semua bergantung dari cara kita memandangnya. Apakah kehilangan atau masih memiliki.

*******
Aji Nugroho, S.Ag. | Kubu Brother in Law at Jl. Cargo Permai No. 88X Denpasar, Bali | Tuesday, August 25, 2015 | 9:42 PM

Tuesday, April 14, 2015

8 Racun Kehidupan


Hilary Bergsieker (profesor ilmu perilaku sosial dari Psychology Department Universitas Waterloo, Kanada) mengatakan bahwa kerusakan dalam berpikir dan bersikap dikarenakan "racun" dan energi negatif dalam pikiran kita. Pribadi yang sehat adalah amazing people yakni pribadi yang menarik, disukai, memiliki hubungan win-win dan bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya perilaku yang rusak dan beracun (atau toxic behavior) akan menimbulkan gesekan, persinggungan, pertengkaran, dan rasa tidak nyaman kepada orang lain.

Hilary menggarisbawahi bahwa toxic behavior dapat mengancam relasi hubungan dan pergaulan antar individu maupun kelompok dalam ruang lingkup organisasi, perusahaan, teman, rumah tangga, relasi, dan lainnya. Berikut ini 8 toxic behavior yang harus kita hindari:

1 . Arrogance = Kesombongan
Kalau kita bersikap sombong terhadap orang lain maka "adrenalin negatif" akan menumpuk dalam pikiran dan hati kita. Badan kita akan menghasilkan energi negatif yang cenderung kuat menolak hal-hal yang baik, sekalipun datang dari orang yang kita anggap benar. Kesombongan adalah racun terbesar yang menutup daya pikir, akal sehat serta nalar kita terhadap hal positif. Kesombongan bisa terjadi karena sikap "keakuan" yang kuat dan memandang dirinya lebih superior dan sukses dibanding orang lain. Orang yang bersikap seperti ini karena kurang memahami bahwa pada dasarnya setiap orang adalah subjek dan bukan objek dalam ruang lingkup kehidupan. Contoh: ketika kita sukses maka kita menganggap bahwa prestasi tersebut adalah sematamata karena kerja keras diri sendiri, dan bukan karena bantuan dan peranan dari teman, bawahan atau anggota keluarga dll, yang sebenarnya turut memiliki andil.

2. Ignorance = Ketidakpedulian
Ignorance terjadi karena tidak peka dan ketidak pedulian terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Contoh: kalau ada orang sedang kesusahan, kelaparan, berduka, atau menderita, maka empati atau rasa kasihan tidak akan muncul dari diri kita. Ignorance muncul karena kita takut berbagi perhatian dan kepedulian, dan menilai orang lain yang menderita semata-mata karena faktor nasib. Bukan karena faktor situasi yang mungkin bisa diubah karena bantuan dan perhatian kita.

3. Denial = Penyangkalan
Seberapa sering kita menyangkal terhadap apa yang telah kita perbuat dan merugikan pihak
lain? Penyangkalan disebabkan karena kita tidak memiliki "jiwa dalam pikiran kita". Kita kehilangan kesadaran untuk berani mempertanggung jawabkan atas apa yang kita lakukan. Penyangkalan kerap membuat kita buta terhadap realita yang sebenarnya. Ketika kebanyakan orang lain mengatakan warna putih adalah putih, maka kita tetap mengatakan hitam. Penyangkalan terjadi karena kita tidak peduli dengan perasaan orang lain. Contoh: jika tim kerja kita mengalami kemerosotan kinerja, maka kita melepas tanggung jawab dan kenyataan sebenarnya, dan menyangkal dengan memberikan argumentasi dan pembelaan diri bahwa semuanya tetap berjalan baik.

4. Tinkering = Mengerjakan sesuatu tanpa keahlian
Banyak kisah sukses yang dimulai dengan tindakan dan cara berpikir hal-hal kecil dan sederhana. Dari situ kita dapat memupuk, melatih, dan mengasah potensi diri secara bertahap dan menjadikannya suatu keahlian yang kita kuasai. Untuk menjalankan suatu pekerjaan apapun, kita dituntut memiliki kemampuan dan keahlian baik secara teori dan Tinkering bisa terjadi karena kita tidak mau belajar dan melatih diri agar menjadi lebih cakap. Akibatnya sering menjadi hambatan bagi orang lain. Kalaupun kita telah merasa pandai dan tidak mau terus belajar, maka kualitas keahlian akan menurun. Maka kemampuan kita bukan menjadi obat, tetapi dapat menjadi racun bagi orang lain. Untuk mengubah keadaan, kita hendaknya berani memberikan pengorbanan melalui tenaga, pikiran, waktu, bahkan biaya, agar semakin berilmu dan tidak menjadi beban pihak lain. Contoh: seorang penjual tidak mau belajar dari penjual yang sukses, membaca buku-buku penjualan atau mempraktikkan secara konsisten, disiplin, dan teratur. Akibatnya prestasi penjualan tidak pernah dicapai dan merugikan perusahaan serta dirinya sendiri.

5. Losing focus = Kehilangan fokus
Fokus adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan mulai dari perencanaan, penyusunan, tindakan, sampai evaluasi dengan baik, efektif, dan efisien. Ketidakmampuan kita untuk fokus sering disebabkan karena memikirkan dan bertindak pada hal-hal yang sepele dan kurang bermanfaat. Untuk fokus, kita memerlukan latihan yang teratur, serta sikap tegas dalam menentukan sikap kita. Kehilangan fokus sering menjadi beban besar pada diri sendiri dan orang lain yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aktivitas kita sehari-hari. Contoh: Pada saat kita harus menyelesaikan suatu tugas penting, kita lupa pada target waktu, ukuran, dan standar pencapaian hasil kerja.

6. Permissive = Toleransi negatif
Lawan dari konsistensi adalah permisif yakni toleransi yang negatif (terhadap korupsi, manipulasi dan indisipliner). Contoh: ada peraturan bahwa setiap orang dilarang terlambat masuk kerja; maka ketika kita membiarkan segelintir orang melanggar karena "unsur suka dan pilih kasih", maka akan merusak tatanan, standar dan aturan yang berlaku.

7. Egoism = Sikap keakuan (egoisme)
Sering dalam pergumulan hidup, kita bertanya: saya yang lebih penting atau orang lain yang harus saya seimbangkan dalam hubungan sosial. Kita sering menempatkan diri kita lebih berharga dan berarti dibanding yang lain. Kesalahan terbesar dalam menempatkan diri kita "sebagai yang paling berarti" menyebabkan kehilangan sikap dalam berbagi dan berempati kepada orang lain. Egoisme muncul karena kita takut menghadapi realita bahwa hidup dan hasil yang baik harus diperjuangkan dan diperebutkan dengan cara yang elegan dan benar. Efek dari racun pikiran dan hati ini, membuat tindakan kita tidak merefleksikan kepentingan bersama. Tindakan kita akan lebih didominasi oleh imajinasi dalam pikiran kita yang keliru dan buruk karena mementingkan diri sendiri. Maka egoisme adalah bahaya besar yang membuat kita bersikap apatis terhadap kebutuhan yang seimbang dalam hubungan dengan orang lain. Contoh: ketika kita membuang sampah sembarangan, maka kita hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap kesehatan, keselamatan, dan kebersihan lingkungan dan orang lain.

8. Conflict = Pertikaian
Akumulasi dari persoalan hidup akan menyebabkan timbulnya pertikaian dengan orang lain (permusuhan, saling menyalahkan dan menghindar dari tanggung jawab). Konflik akan melahirkan sakit hati dan dendam pada semua pihak yang terlibat. Dan pertikaian akan
menimbulkan suasana tegang pada semua pihak. Konflik atau pertikaian timbul karena tidak mampu mengelola emosi dan egoisme yang menguasai diri kita. Konflik bisa terjadi secara mental, psikologis dan fisik yang tentunya akan merugikan semua pihak. Meredakan dan mengurangi "racun-racun" dalam kehidupan kita akan berdampak positif kepada cara berpikir, berucap dan bertingkah laku. Sadari bahwa setiap manusia memiliki unsur-unsur positif yang lebih dominan daripada unsur-unsur negatif.

Tantangan terbesar bagi kita adalah mengelola dan mengembangkan kemampuan dalam mengikis secara bertahap semua unsur-unsur "racun" yang ada dalam diri kita, agar mampu menempatkan diri kita sebagai pribadi yang bermanfaat dan bernilai dalam pergaulan dan hubungan dengan orang lain. *AjiNgr*

From :



Wednesday, May 8, 2013

Taman Nasional Baluran Jawa Timur



Baluran, Pergulatan "Africa van Java" di Timur Jawa
Mentari beranjak tinggi saat Hendri Reskyono (49) dan sejumlah polisi hutan menyusup ke rerimbunan hutan akasia di kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Sepatu bot dan golok tebas melengkapi perjalanan mereka.
Tak lama kemudian, "Braaak...!" Sebatang pohon berdiameter sekitar 20 sentimeter pun tumbang. Aksi penebangan ini bukan perusakan lingkungan. Itu bagian dari aksi menyelamatkan ekosistem savana di Baluran yang terus tergusur akibat masifnya pertumbuhan akasia (Acacia nilotica).
"Supaya tidak tumbuh lagi, bekas tebangan pohon akasia ini harus dilumuri cairan herbisida," ujar Hendri, Rabu (17/4/2013).
Apa yang dilakukan polisi hutan ini adalah bagian dari upaya mempertahankan jati diri Baluran. Sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Baluran lekat dengan julukan "Africa van Java".
Hamparan savana, satwa liar, dan sengatan mataharinya yang terik, membuat pesonanya bak alam liar Afrika. "Suhu saat musim kemarau bisa 40 derajat celsius," kata Kepala Taman Nasional Baluran Emy Endah Suwarni.
Berjarak 253 kilometer dari Surabaya, Taman Nasional (TN) Baluran cukup mudah dijangkau karena terletak di tepi jalur pantai utara Jawa Timur. Letaknya di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, berbatasan dengan Banyuwangi.
Dari luas TN Baluran yang mencapai 25.000 hektar, awalnya sekitar 10.000 hektar di antaranya berupa savana yang terbentang di berbagai penjuru taman nasional. Savana menjadi habitat banteng jawa (Bos javanicus), rusa timor (Cervus timorensis), hingga kerbau liar (Bubalus bubalis).
Salah satu savana terbesar di Baluran adalah savana Bekol, seluas 300 hektar. Dari pintu gerbang taman nasional, pengunjung hanya perlu menempuh jarak 12 kilometer untuk masuk ke Bekol. Gunung Baluran setinggi 1.247 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjulang kokoh di hadapan savana ini.
Namun, savana di Baluran, termasuk Bekol, kini terancam oleh ekspansi akasia. Pesatnya pertumbuhan akasia di Baluran berawal ketika seringnya kebakaran melanda Baluran pada akhir tahun 1960-an. Pihak TN Baluran kemudian berinisiatif menanam akasia yang berfungsi sebagai sekat bakar untuk mencegah api menjalar.
Akasia yang tumbuh berjajar mengelilingi savana berhasil menjadi sekat bakar yang efektif. Namun, tanaman yang semula kawan ini menjelma menjadi gulma karena pertumbuhannya invasif dan tak terkendali. Tak hanya api yang diredam, savana pun turut dihabisi.
Luas savana yang semula 10.000 hektar kini tinggal 3.000 hektar. Khusus savana Bekol yang awalnya seluas 500 hektar menyusut menjadi 300 hektar. Penyusutan savana ini diikuti berkurangnya populasi hewan, terutama banteng jawa.
Berdasarkan sensus satwa TN Baluran tahun 1996, populasi banteng jawa mencapai 338 ekor. Namun, sensus tahun 2012 menyebutkan jumlahnya tinggal 26 ekor. "Menyusutnya savana membuat sumber air dan pakan bagi banteng makin terbatas," ucap Emy yang belum pernah melihat langsung banteng jawa.
Tahun 1986, pengunjung dan petugas dapat dengan mudah menemukan kerumunan banteng dari atas menara pandang. Namun, saat ini, banteng sangat sulit ditemui.
Daya tarik wisata
Meski berpacu dengan waktu menghadapi dahsyatnya akasia, Baluran tetap menjadi magnet bagi pengunjung. Hal ini terlihat dari peningkatan angka kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Jumlah pengunjung tahun 2010 sebanyak 15.188 orang, kemudian melonjak menjadi 28.851 orang pada 2011 dan 32.674 orang pada 2012.
Nama Baluran bahkan telah mendunia. Turis asing pun silih berganti mendatangi tempat ini. Contohnyai Jack (39) dan Imagine (39), pasangan kekasih dari London, Inggris, yang singgah ke Baluran dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Bali. "Kami ingin lihat binatang liar dan savana. Ternyata sangat menyenangkan," kata Jack.
"Serasa di alam liar. Itu baru saja lihat rusa saat safari malam," ujar Berbudi Bintang Pratama (17), siswa kelas XI SMA Madania Bogor, Jawa Barat. Bintang bersama 48 siswa jurusan Biologi SMA Madania mengunjungi Baluran dalam rangka studi lapangan.
Seorang polisi hutan, Siswanto, mengatakan, tidak setiap saat satwa liar di Baluran dapat dengan mudah ditemui. Untuk itu, pihak taman nasional sengaja membuat kubangan sebagai tempat minum satwa sehingga mereka berkumpul.
Binatang buas, seperti macan tutul dan kucing bakau, sebenarnya masih ada meski sulit sekali ditemui. Jauh sebelum ditetapkan sebagai taman nasional pada 1982, kawasan ini terkenal dengan binatang buas yang berkeliaran di padang ilalang.
Penjelajah Inggris, John Joseph Stockdale, dalam buku Island of Java menuliskan, jalan dari Ketapang, Banyuwangi, menuju Panarukan tahun 1805 pada kedua sisinya diapit oleh ilalang yang rapat. Dalam perjalanannya, dia melewati gurun, padang rumput, dan sungai. Jejak harimau pun mudah ditemui.
Sebagai areal yang dilindungi, Baluran terbagi atas tujuh zona, yakni zona inti seluas 6.920 hektar, zona rimba (12.604 hektar), zona perlindungan bahari (1.174 hektar), zona pemanfaatan (1.856 hektar), zona tradisional (1.340 hektar), zona rehabilitasi (365 hektar), dan zona khusus (738 hektar). Kebanyakan satwa berada di zona inti dan rimba.
Baluran juga memiliki hutan pantai, mangrove, hutan rawa asin, hutan payau, hutan hujan tropis pegunungan, hutan musim, padang lamun, dan gugusan terumbu karang.
Sejumlah ekosistem itu membuat Baluran memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Taman nasional ini dihuni setidaknya oleh 461 spesies flora, 28 jenis mamalia, dan 225 jenis burung. Belum lagi beragam jenis ikan dan reptil.
Namun, kekayaan flora dan fauna ini terancam tenggelam jika bumi Afrika di Jawa ini kehilangan identitasnya, yakni ekosistem savana. Inilah pergulatan akibat kekeliruan masa silam.

http://sains.kompas.com/read/2013/05/05/11553648/Baluran.Pergulatan.Africa.van.Java.di.Timur.Jawa