Monday, June 9, 2008

JALAN BUDDHA YANG DIMANIS


“ Ikatan dari dalam, ikatan dari luar, umat manusia terjerat dalam ikatan. Aku bertanya, Gotama, siapakah yang melepaskan ikatan ini ?”
“ Ketika orang bijaksana mantap dalam moral kebajikan (sila), mengembangkan kosentrasi (citta – samadhi) dan kebijaksanaan (panna), maka sebagai seorang bhikkhu yang rajin dan bijaksana, ia membebaskan diri dari ikatan ini “.
Pertanyaan ini diajukan kepada Buddha oleh dewa tertentu, dan pernyataan berikutnya merupakan jawaban dari Buddha. Jawaban yang singkat tetapi penuh arti ini mengandung keseluruhan ajaran mengenai Jalan Mulia Berunsur Delapan, bagian akhir dari Empat Kebenaran Mulia yang dinyatakan oleh Buddha dalam khotbah-Nya yang pertama.
Jelas dari jawaban Buddha bahwa syarat utama agar terbebas dari ikatan adalah tiga jenis latihan ( sikkha ) , moral kebajikan ( sila ) , konsentrasi ( citta / samadhi ) dan kebijaksanaan ( panna ) .
Ikatan ( jata ) , dalam konteks ini berarti jaringan nafsu keinginan atau ketamakan. Sebab timbulnya ikatan ini berkenaan dengan diri seseorang dan lainnya, dan berkenaan dengan landasan internal dan eksternal, yang disebut ikatan dari dalam dan ikatan dari luar. Buddha telah menunjukkan dengan jelas bahwa ikatan ini merupakan belenggu utama yang secara terus menerus menyebabkan makhluk hidup terikat pada lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang – ulang.
“ Para Bhikkhu, aku tidak melihat adanya belenggu lain yang menyebabkan makhluk hidup untuk waktu yang sangat lama mengembara dan pontang panting menjalani rangkaian kehidupan, seperti belenggu nafsu keinginan ( tanha samyojana ). Sesungguhnya, Bhikkhu, karena terikat pada belenggu nafsu keinginan ini, makhluk hidup menggembara dan pontang panting menjalani rangkaian kehidupan. “2
Dalam pemikiran Buddhis, nafsu keinginan itu terdiri atas tiga hal, yaitu keinginan akan kesenangan indra ( kama – tanha ), keinginan untuk melanjutkan kehidupan atau mempertahankan kelangsungan diri sendiri ( bhava – tanha ) dan keinginan untuk melenyapkan diri sendiri (vibhava – tanha).
Nafsu keinginan tersebut merupakan keinginan yang membutakan makhluk hidup ini, dan menjadi sebab kebencian dan segala penderitaan lainnya. Bukanlah, senjata nuklir namun keserakahan, kebencian dan kebodohan batin ( lobha, dosa, moha ) yang terutama menghancurkan manusia. Bom dan senjata diciptakan oleh nafsu manusia untuk menaklukkan dan menguasai, kebenciannya yang mengarah pada pembunuhan, kebodohan batinnya berkeinginan untuk menaklukkan dan menghancurkan. Keinginan kuat akan ketenaran, kekuatan dan kekuasaan telah menyebabkan penderitaan yang tak terhingga bagi umat manusia. Jika manusia tidak berusaha mengawasi keinginan yang selalu siap untuk menguasai pikirannya, maka ia akan menjadi budak dari keinginannya. Oleh sebab itulah ia tidak lagi lebih mulia dari binatang karena sama – sama makan, tidur dan melampiaskan nafsu birahi mereka. Namun, binatang tidak dapat berkembang secara spiritual, sementara manusia dapat. Manusia memiliki sifat – sifat laten yang dapat digunakan untuk mencapai kesejahteraan baginya sendiri maupun orang lain. Akan tetapi jika ia tidak mengawasi pikirannya sendiri, mengembangkan pikiran – pikiran yang baik dan menyingkirkan pikiran – pikiran yang buruk, kehidupannya tidak memiliki kemudi dan inspirasi.
Empat Kebenaran
Apa yang diajarkan oleh Buddha mencakup Empat Kebenaran Mulia, yaitu tentang dukha, penderitaan, konflik atau ketidakpuasan dalam kehidupan ; tentang timbulnya ; tentang lenyapnya ; dan jalan keluar dari keadaan yang tidak memuaskan ini. Seseorang yang berpikir secara medalam akan dapat menafsirkan kebenaran ini menyangkut seorang manusia dan tujuannya, pembebasan akhir ; yang merupakan intisari keseluruhan Empat Kebenaran Mulia.
Bagi mereka yang memandang dunia sadar dengan ketajaman yang netral satu hal akan menjadi sangat jelas ; bahwa hanya ada satu masalah di dunia ini, yaitu penderitaan, dukkha . Semua masalah lain baik yang diketahui maupun tidak termasuk di dalamnya, yang mencakup seluruh alam semesta. Seperti yang dikatakan oleh Buddha : “ Dunia dibentuk di atas penderitaan, didirikan di atas penderitaan “. ( dukkhe loko patitthito ).3 Jika sesuatu menjadi persoalan, pasti ada hubungannya dengan penderitaan, ketidakpuasan dan pertentangan ; pertentangan antara keinginan dan kenyataan dalam kehidupan. Tentu saja semua usaha keras yang kita lakukan adalah untuk memecahkan persoalan, melenyapkan ketidakpuasan, mengendalikan pertentangan. Usaha ini sendiri merupakan penderitaan, suatu keadaan pikiran yang tidak menyenangkan.
Masalah yang satu ini memiliki berbagai macam aspek ; ada aspek ekonomi, social, politik, psikologi dan bahkan masalah keagamaan. Bukankah semua berasal dari satu masalah itu, dukkha, ketidakpuasan ? Jika tidak ada ketidakpuasan, mengapa kita perlu berusaha untuk memecahkan persoalan – persoalan kita ? Bukankah dengan memecahkan persoalan secara tidak langsung kita mengurangi ketidakpuasan ? Semua persoalan menimbulkan ketidakpuasan, maka kita berusaha keras untuk mengakhirinya, tetapi keduanya saling berhubungan. Penyebabnya sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dalam persoalan itu sendiri ; hal yang subjektif asalnya. Kita sering kali berpikir bahwa kita telah memecahkan persoalan memenuhi kepuasan yang diinginkan benar, tetapi persoalan ini sering kali muncul kembali dalam bentuk lain dan dalam bentuk yang berbeda. Kita terus menerus dihadapkan pada persoalan baru dan kita mengupayakan usaha – usaha baru untuk memecahkannya, sehingga persoalan dan pemecahan persoalan terus berlanjut tanpa henti. Demikianlah sifat penderitaan, ciri khusus yang universal dari kehidupan. Penderitaan timbul dan lenyap hanya untuk timbul kembali dalam bentuk lain. Semua bentuk penderitaan kalau bukan jasmaniah pastilah rohaniah, dan sebagian orang sanggup memikul penderitaan yang satu lebih dari yang lain.
Pengakuan atas fakta dalam alam semesta ini, penderitaan, bukanlah merupakan penyangkalan total terhadap kesenangan atau kebahagiaan. Buddha, Guru yang telah mengatasi penderitaan, tidak pernah memungkiri kebahagiaan dalam bentuk kehidupan ketika Beliau berbicara mengenai keuniversalan penderitaan. Dalam Angutara Nikaya ( I, 80 ) , salah satu dari kumpulan asli kitab suci berbahasa Pali, terdapat suatu daftar panjang mengenai kebahagiaan yang dinikmati oleh manusia.
Melalui panca – indranya, manusia tertarik pada objek – objek indrawi, senang terhadap objek – objek itu dan mendapat kesenangan darinya. Ini merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal, karena hal ini dapat dialami. Objek – objek yang menyenangkan maupun kenikmatan tidaklah abadi. Semuanya mengalami perubahan. Makhluk hidup dan dunia empiris keduanya tidak pernah berhenti berubah. Mereka lahir ke dunia lalu meninggal dunia. Semuanya termasuk dalam pusaran ; tak ada yang dapat melarikan diri dari kepastian ini, perubahan tanpa henti ; dan karena sifat yang tidak kekal ini, tidak ada hal yang sesungguhnya menyenangkan. Ada kebahagiaan, tetapi itu hanya sementara ; yang akan lenyap bagai kepingan salju dan menimbulkan ketidakpuasan. Tidak ada ketenangan yang sesungguhnya di alam semesta ini ; namun lebih banyak kelelahan untuk mendapatkan ketenangan. Ketenangan yang sementara mungkin masih dapat diperoleh, tetapi tidak ketenangan yang mutlak. Ada kebahagiaan, namun itu merupakan suatu khayalan yang berlalu. Mata yang melihat, melihatnya berlalu bersama dengan timbulnya hal itu. Yang diinginkan tidak ada lagi ketika tangan yang diulurkan akan meraihnya, atau ada di sana dan teraih, namun kemudian lenyap.
Pemecahan terhadap persoalan dukkha, pertentangan, ketidakpuasan dalam kehidupan ini adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dikemukakan oleh para Buddha atau Dia yang telah mencapai Penerangan Sempurna di segala zaman. Jalan ini, yang merupakan pengamalan dari ajaran agama Buddha, terbagi dalam tiga kelompok, moral kebajikan, konsentrasi dan kebijaksanaan.
Kedelapan unsur dari jalan itu, adalah :
Kelompok kebijaksanaan (panna) 1. Pengertian benar ( samma – ditthi ) 2. Pikiran Benar ( samma – sankappa ) ( panna )
Kelompok moral kebajikan ( sila )3. Ucapan Benar ( samma – vaca ) 4. Perbuatan Benar ( samma – kammanta ) 5. Mata Pencaharian Benar ( samma – ajiva )
Kelompok konsentrasi (samadhi)6. Daya Upaya Benar ( samma – vayama ) 7. Perhatian Benar ( samma – sati ) 8. Konsentrasi Benar ( samma – samadhi ) ( samadhi )

Buddha, penemu jalan ini, jalan yang hanya dimiliki oleh agama Buddha, yang membedakannya dari setiap ajaran agama dan filsafat lain, menamakannya Jalan Tengah, karena jalan ini menghindari dua jalan ekstrem ; pemuasan diri dan penyiksaan diri.4 Harus selalu diingat bahwa istilah “ jalan “ itu hanya cara berbahasa. Walau secara konvensional kita mengatakan menempuh satu jalan, dalam arti pokoknya delapan langkah itu menandakan delapan unsur batin, yang kesemuanya saling bergantung dan saling berhubungan, dan pada titik tertinggi bekerja secara bersamaan ; jalan itu tidak diikuti dan dipratikkan satu persatu secara berurutan. Bahkan pada tingkat yang lebih rendah, setiap unsur seharusnya mengandung sebagian tingkatan dari Pengertian Benar ; karena itu adalah kunci utama dari ajaran agama Buddha. Pengertian Benar merupakan yang pertama dan mengepalai unsur – unsur dari jalan itu.

Tiga Jenis Latihan
Jalan mengenai moral kebajikan, konsentrasi ( meditasi ) dan kebijaksanaan berhubungan dengan ajaran mengenai tiga jenis latihan ( tividha – sikkha ). Ketiganya ini bersama – sama mendukung satu sama lain. Moral kebajikan atau perbuatan baik memperkuat meditasi, dan meditasi pada gilirannya mengembangkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan membantu menyingkirkan pandangan salah mengenai segala sesuatu dan melihat kehidupan sebagaimana yang sebenarnya, yaitu melihat kehidupan dan segala sesuatu dalam kehidupan timbul dan lenyap.
“ Para Bhikkhu, konsentrasi ( meditasi ) yang didukung oleh moral kebajikan menghasilkan banyak buah, menghasilkan banyak keuntungan. Kebijaksanaan yang didukung oleh konsentrasi menghasilkan banyak buah, menghasilkan banyak keuntungan. Pikiran yang didukung oleh kebijaksanaan ( pengertian benar ) sepenuhnya dan seluruhnya terbebas dari mabuk keinginan hawa nafsu, dilahirkan kembali, pandangan salah dan kegelapan batin “. ( kama, bhava, ditthi, avijja )5
Sekarang mari kita bicarakan moral kebajikan ( sila ), yang pertama dari ketiga latihan. Peraturan moral yang diajarkan dalam agama Buddha begitu luas dan beraneka ragam. Namun fungsi dari kesusilaan Buddhis hanyalah satu, tidak banyak ; pengendali dari perbuatan yang dilakukan manusia melalui ucapan dan tindakannya, dengan kata lain, menyucikan perkataan dan perbuatan. Semua moral yang dinyatakan dalam agama Buddha terarah pada tujuan ini – tingkah laku yang berbudi luhur. Namun, moral kebajikan dengan sendirinya, bukanlah tujuan, tetapi merupakan sebuah sarana menuju samadhi, konsentrasi atau meditasi. Samadhi pada gilirannya merupakan sarana menuju panna, kebijaksanaan sejati, yang menuntun kita pada pembebasan pikiran ( ceto – vimutti ), tujuan akhir dari ajaran. Bila dilaksanakan secara bersamaan, moral kebajikan, konsentrasi dan kebijaksanaan akan menghasilkan perkembangan yang harmonis antara emosi dan akal budi seseorang. Untuk mencapai tujuan inilah Bhagawa mengarahkan para siswa – Nya.

Ucapan Benar
Tiga unsur dari Jalan Mulia Berunsur Delapan membentuk peraturan tingkah laku ( sila ) bagi umat Buddha, yang terdiri atas ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencaharian benar. Ucapan benar (samma-vaca) adalah (a) menghindari dusta dan selalu berbicara jujur; (b) menghindari kebohongan yang menimbulkan perselisihan, pertentangan, dan sebaliknya berbicara hal yang menghasilkan kerukunan dan kedamaian; (c) menghindari caci maki dan ucapan kasar, dan sebaliknya berbicara dengan kata-kata yang halus dan sopan; dan (d) menghindari omong kosong, membual atau bergunjing dan sebaliknya berbicara hal yang berarti dan terpuji.
Berbicara adalah hal yang menakjubkan, hanya dengan sepatah kata dapat mengubah keseluruhan dari pandangan seseorang ke arah kebaikan dan kejahatan. Kita sungguh beruntung dengan kelebihan yang tidak dimiliki hewan ini. Namun hanya sedikit dari kita yang menggunakannya demi kesejahteraan kita sendiri maupun orang lain. Banyak kesulitan dan salah pengertian yang dapat dihindari bila orang-orang mau lebih bijaksana dan ramah tamah dalam berbicara, dan lebih cermat serta tulus dalam hal yang mereka tulis.
Berbicara adalah pemberian yang besar nilainya karena melalui kata- kata kita dapat berbagi pemikiran dan ide-ide kita dengan orang lain. Akan tetapi jika lidah yang tak bertulang ini menjadi sukar dikendalikan, dapat terjadi malapetaka. Bukankah lidah bertanggung jawab atas banyaknya percekcokan dan kesulitan yang timbul dalam pertengkaran antar-keluarga,dan dalam peperangan antar-negara? Jilca manusia dapat menjinakkan lidah dunia akan meniadi tempat yang jauh lebih baik untuk dihuni ?
Dalam berbicara seharusnya tidak dikuasai oleh pikiran-pikiran yang jahat seperti ketamakan, kemarahan, kecemburuan, kesombongan atau egoisme. Banyak pembicaraan sesungguhnya menghambat ketenangan dan pemikiran benar, dan selip lidah membawa kita pada semua jenis pemibcaraan yang salah. Buddha mengatakan: 'Para Biku, terdapat lima kerugian dan bahaya dalam ucapan yang salah: pembicara yang selip lidah mengeluarkan kata-kata dusta, fitnah, berbicara kasar dan omong kosong, dan setelah meninggal dunia nanti akan dilahirkan kembali di alam kehidupan yang menyedihkan”.6
(i) moral kebajikan pertama dalam ucapan benar adalah menghindari bicara dusta, dan berbicara jujur. Orang yang jujur sifatnya tulus, lurus dan dapat dipercaya. la tidak menyimpang dari kebenaran untuk mendapatkan kemasyuran atau untuk menyenangkan orang lain.
(ii) Fitnah atau gunjingan adalah kejahatan lain yang dapat dilakukan oleh lidah. Dalam bahasa Pali diartikan secara harfiah"memutuskan persahabatan”. Menfitnah orang lain adalah sangat kejam karena fitnah menghasilkan pernyataan yang tidak benar yang dimaksudkan untuk merusak nama baik seseorang. Penfitnah sering kali melakukan dua kejahatan secara bersamaan. Ia mengatakan apa yang tidak benar karena laporannya yang keliru, dan kemudian ia menfitnah.
Dalam puisi berbahasa Sanskerta, pemfitnah dapat disamakan dengan nyamuk, kecil namun membahayakan. Ia dating mendengung, hinggap padamu, menghisap darah dan mungkin menularkan malaria kepadamu. Mrilah kita hindari gunjingan dan fitnah yang menghancurkan persahabatan. Daripada membuat masalah marilah kita berbicara dengan kata-kata yang menghasilkan perdamaian dan kerukunan 7daripada menyebarkan benih perselisihan marilah kita bawa perdamaian dan persahabatn kepada mereka yang hidup dalam permusuhan dan kebencian. “ Bersatulah, jangan berkelahi” (samagga hotha mavivadatha) seru Buddha. “Perdamaian memang patut dihargai” (samavayo eva sadhu) ditulis diatas batu oleh Asoka, raja India . Karena kita tergantung satu sama lain, kita harus belajar untuk hidup bersama dalam perdamaian, persahabatan dan kerukunan.
(iii) Moral kebajikan lainnya adalah menghindari kata-kata kasar dan berbicara lembut serta sopan. Apa yang kita katakan dapat membawa keberhasilan atau kegagalan, nama baik atau nama buruk, pujian atau celaan, kegembiraan atau kesedihan.
Kata-kata yang lembut dapat meluluhkan hati yang paling perasa, sementara kata yang kasar dapat menyebabkan penderitaan yang tak terhingga. Oleh sebab itu kita harus berpikir dua kali sebelum berbicara buruk tentang siapa saja, karena hal ini akan merusak reputasi dan nama baik.
Kata-kata yang diucapkan seseorang sering kali menandakan sifatnya. Kata-kata kasar, sikap yang tidak menyenangkan., senyum yang sinis, dapat mengubah orang yang pada dasarnya baik menjadi orang yang jahat, seorang sahabat menjadi seorang musuh. Kata-kata yang menyenangkan, sopan dan menarik hati, merupakan modal yang tak ternilai dalam masyarakat, namun sering kali ternoda oleh kata-kata kasar. “ Berbahasa hati, bahasa yang datang dari sanubari, selalu sederhana, menarik dan penuh kekuatan."
(iv) Moral kebajikan yang keempat dan yang terakhir berkenaan dengan ucapan benar adalah menghindari ucapan yang tidak berguna atau bergunjing yang tidak menghasilkan keuntungan bagi siapa pun, dan dimana pun juga. Orang-orang sangat gemar omong kosong, dengan kejamnya memperolok-olok orang lain. Surat kabar dengan kolom gosipnya juga sama buruknya. Pria dan wanita mengisi waktunya sesuka hati dalam pembicaraan yang tiada habis-habisnya, menyenangkan diri mereka sendiri dengan mengorbankan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh J.L. Hollard: “Gosip selalu merupakan pengakuan pribadi, baik kedengkian atau kedunguan. Hal itu merupakan perbuatan rendah, tidak berguna dan sering kali merupakan bisnis kotor yang menyebabkan sesama manusia saling bermusuhan selamanya."
Buddha sangat mencela omong kosong, skandal dan desas-desus, karena semuanya itu mengganggu ketenangan dan konsentrasi. "Daripada seribu kaliamt yang tida berarti, lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya."8
Dalam bahasa Pali orang bijaksana kadang disebut "muni” yang seseorang yang tetap diam. Ya, "diam adalah emas". Jadi jangan berbicara kecuali kau yakin bahwa kau dapat meningkat dalam ketenangan.
Perbuatan Benar
Perbuatan benar adalah bagian kedua dari kelompok moral kebajikan, Menyangkut pantangan terhadap tiga perbuatan yang salah: pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila. Lawan dari kesalahan-kesalahan ini adalah menanamkan belas kasih terhadap seluruh makhluk hidup; hanya mengambil apa yang diberikan; dan menjalani kehidupan suci - setia dalam perkawinan bagi umat awam, dan hidup selibat bagi para biku dan bikuni. Ini merupakan tiga peraturan pertama dari lima peraturan dasar (panca-sila) dalam etika Buddhis. Dua peraturan lainnya adalah menghindari kata-kata dusta dan minuman keras yang memabukkan. Peraturan latihan ini selain membentuk sifat dari setiap orang yang menjalankannya, juga meningkatkan keselarasan dan hubungan baik dengan diri sendiri serta orang lain. Dengan tingkah laku bermoral seperti itu seseorang memberikan keberanian, keamanan dan kedamaian kepada orang lain. Semua kesusilaan atau kehidupan yang baik ditegakkan atas dasar cinta kasih dan belas kasih (metta dan karuna). Seorang manusia tanpa dua sifat penting ini tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai seorang manusia yang susila. Perbuatan melalui ucapan dan tindakan jasmani yang tidak disertai dengan cinta kasih dan belas kasih tidak dapat dipandang sebagai perbuatan yang baik dan bermanfaat. Tentunya seseorang tidak dapat membunuh ataupun mencuri dengan pikiran yang penuh cinta kasih dan kesadaran yang baik, kecuali jika didorong oleh kekejaman, ketamakan dan kebodohan batin.
Adalah perlu sekali untuk mengusahakan ukuran tertentu dari disiplin mental karena pikiran yang belum ditundukkan selalu menemukan alasan untuk melakukan kejahatan dengan kata-kata ataupun perbuatan. "Ketika pikiran tidak dijaga, perbuatan melalui badan jasmani juga tidak dijaga, demikian pula dengan perbuatan melalui ucapan dan mental."9
Tingkah laku, membentuk karakter. Tak ada seorang pun yang dapat memberikan hadiah karakter yang baik kepada orang lain. Setiap orang harus membentuk dengan pikiran, pengertian, perhatian, daya upaya, kesadaran, dan konsentrasi. Seperti halnya dalam menguasai seni, seseorang harus bekerja keras. Untuk menguasai seni tingkah laku yang mulia yang padanya bergantung karakter yang baik dan kuat, seseorang haruslah tekun. Seperti yang dikatakan oleh William Hawes: "Karakter yang baik pada umumnya adalah buah dari usaha keras pribadi seseorang. Bukan diwariskan oleh orang tua, bukan diciptakan oleh kekuatan-kekuatan luar, tida perlu dikaitkan dengan kelahiran, kekayaan, bakat ataupun lingkungan; tetapi merupakan hasil dari usaha keras yang dilakukan seseorang.”10 Jika kita dapat memperoleh karakter yang luhur, kita harus selalu ingat pada kata-kata Buddha yang menegaskan agar tidak lengah : “Waspadalah, sadarlah selalu “ (appamatta satimanto)
Dalam melatih karakter yang pertama-tama dibutuhkan adalah mempraktikkan pengendalian (samyama). Pengendalian timbul melalui pemikiran mengenai kesusilaan dan keuntungan-keuntungannya. Orang-orang muda khususnya, harus mengembangkan rasa cinta kasih terhadap kesusilaan, karena dapat memelihara kehidupan mental. Pikiran yang tidak dikendalikan akan sia-sia dalam kegiatan yang tak berguna. Karakter adalah sesuatu yang harus kita bentuk, dibangun atas dasar ketetapan hati kita.
Peraturan-peraturan latihan - menghindari pembunuhan, pencurian dan perbuatan asusila, dusta dan minum minuman keras - bukan merupakan perintah. Buddha bukanlah hakim yang menjatuhkan hukuman. Tak ada paksaan atau pun tekanan dalam agama Buddha. Penerimaan umat awam atau pun para biku terhadap peraturan-peraturan itu adalah atas dasa suka rela.
Perbuatan benar - samma kammanta tidak berbeda dengan samma kamma. Ajaran mengenai karma merupakan satu dari ajaran utama dalam agama Buddha. Karma adalah perbuatan yang dilakukan atas kemauan kita sendiri. Jika seseorang memahami bahwa perbuatan yang disertai kehendak akan membawa hasil yang layak kita terima (kamma vipaka), ia tidak akan tergoda untuk melakukan perbuatan jahat, karena menyadari bahwa perbuatan-perbuatan ini hanya akan berbalik kembali kepada diri sendiri dan menghasilkan kepedihan serta penderitaan.
Mata Pencaharian Benar
Bagian ketiga dan terakhir dari kelompok moral kebajikan adalah mata pencaharian benar (samma ajiva), yang meminta kita agar menghindari perdagangan alat-alat perang dan senjata yang mematikan, hewan-hewan untuk disembelih, manusia, minuman keras yang memabukkan dan racun. Meskipun Buddha hanya menyinggung lima jenis mata pencaharian, kita haruslah ingat bahwa Beliau mengacu pada masyarakat India di abad ke-6 SM, yang sebagian besar terdiri dari petani, penggembala dan pedagang. Di masa kini kita dapat menambah lebih banyak lagi jenis mata pencaharian yang tidak benar.
“Dalam dunia modern ini, mata pencaharian benar dapat dianggap sebagai salah satu peraturan yang sangat sulit untuk ditaati. Begitu banyak jenis pekerjaan yang berbahaya bagi masyarakat dan memalukan bagi umat Buddha sejati. Banyak terdapat industripersenjataan perang dan nuklir ; perdagangan minuman keras; pekerjaan yang menyangkut pembantaian dan pembedahan hewan hidup-hidup; jurnalisme kuning; publisitas dan iklan yang tidak jujur; serta bisnis yang menyangkut praktik lintah darat. Agama Buddha bukan agama yang mempunyai cara berpikir sempit. Agama Buddha memandang kelemahan moral manusia dengan pengertian dan simpati. Namun umat Buddha yang lurus tidak dapat mengakui suatu peraturan moral dan memperoleh penghasilan dari pekerjaan sebaliknya, yang mengabaikan peraturan.
Tugas-tugas Negara
Janganlah kita berpikir bahwa Buddha hanya berbicara kepada orang-orang biasa tentang perlunya mata pencaharian benar. Dalam kitab suci berbahasa Pali, khususnya dalam Digha dan Anguttara Nikaya, kita dapat menemukan khotbah mengenai tugas-tugas penguasa atau pemimpin.
Di situ telah dinyatakan dengan tegas bahwa seorang raja harus memerintah secara adil (dhammena) dan bukan tiada adil (a-dhammena). Di samping memberlakukan peraturan-peraturan yang sama terhadap rakyatnya, para penguasa diharapkan juga memiliki semua sifat-sifat baik yang dapat dijadikan teladan sebagai kepala negara yang baik. Penguasa, pertama-tama harus berdiri dalam Dharma, dalam kesalehan dan keadilan menghindari perbuatan jahat, lalu memerintahkan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama.
Tidak pernah merasa puas dengan keberhasilan yang diperolehnya, raja atau penguasa diharapkan untuk berbuat baik dan patuh kepada rakyatnya, “bagaikan seorang ayah yang penuh kebaikan bagi anaknya.”12
Raja yang cenderung memuaskan diri sendiri dan mabuk dengan pikiran haus kekuasaan (issariyamadamatta), tidak terpuji, dan dipandang rendah. 13Agar adil, jujur dan tulus kepada sesama tanpa memihak ataupun pilih kasih, penguasa diharapkan untuk menghindari empat cara yang salah dalam memperlakukan orang lain, yaitu cara yang disertai hawa nafsu (chanda), kebencian (dosa), ketakutan (bhaya), dan kebodohan (moha). 14Pada zaman demokratis ini, norma tingkah laku dapat dialihkan - dari penguasa ke pemimpin negara - orang yang dipilih atau ditunjuk dengan tugas memerintah suatu negara.
Peraturan mengenai mata pencaharian benar dibuat untuk menghasilkan kebahagiaan sejati bagi setiap orang dan masyarakat serta meningkatkan persatuan dan hubungan baik diantara sesame manusia. Ketidka adilan dan cara hidup yang salah mungkin dilakukan oleh setiap orang, keluarga dan Negara. Cara yang salah dan tidak adil dalam kehidupan menghasilkan serentetan kesedihan, perpecahan dan kesulitan yang tersebar luas. Ketika seseorang atau masyarakat mengalah pada kejahatan untuk mengekploitasi orang lain, hal itu akan mempengaruhi kedamaian dan kerukunan kelompok masyarakat. Hanya keegoisan dan ketamakan belaka yang mendorong seorang manusia melakukan cara-cara hidup yang salah dan melanggar hukum. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak peduli pada kerugian dan penderitaan yang diakibatkan terhadap lingkungan dan masyarakat mereka.
Daya Upaya Benar
Moral kebajikan merupakan langkah pertama dalam jalan menuju pembebasan. Langkah selanjutnya adalah pemeliharaan mental atau konsentrasi (samadhi) yang termasuk di dalamnya tiga unsur lain dari Jalan Mulia Berunsur Delapan: daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Daya upaya benar (samma-vayama) merupakan usaha yang keras untuk (a) mencegah timbulnya pikiran-pikiran jahat dan tidak benar yang belum timbul, (b) membuang pikiran-pikiran jahat yang telah timbul, (c) menghasilkan dan mengembangkan pikiran-pikiran baik yang belum timbul dan (d) meningkatkan dan mempertahankan pikiran-pikiran baik yang telah ada.
Itulah tugas dari unsur keenam ini, yaitu untuk mempertahankan kewaspadaan dalam mengawasi pikiran-pikiran yang tidak sehat serta memeningkatkan dan mempertahankan pikiran-pikiran yang baik dan suci.
Manusia yang telah menguasai ucapannya dan perbuatannya melalui badan jasmaninya dalam moral kebajikan (sila), selanjutnya berusaha keras untuk meneliti dengan cermat pikiran-pikirannya dan faktor-faktor mental yang menyertainya.
Buddha menekankan benar unsur keenam dari Jalan Mulia, daya upaya benar, karena penyelamatan manusia tidak bergantung kepada kemampuan-Nya. Walaupun Beliau selalu siap untuk menuntun orang-orang di jalan menuju kemajuan, mendorong dan memberikan dorongan moril bagi mereka, Beliau bukanlah juru selamat, dalam arti tidak memberikan jaminan bahwa Beliau akan menyelamatkan orang-orang dari penderitaan, dari belenggu samsara (tanpa usaha orang itu sendiri). Pemikiran bahwa seseorang dapat mengangkat orang lain dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi dan pada akhimya menyelamatkan mereka cenderung membuat manusia menjadi lemah, pasrah dan bodoh. Hal ini merendahkan manusia dan menekan martabat dirinya.
Penekanan Buddha pada daya upaya benar menunjukkan bahwa agama Buddha bukanlah ajaran yang pesimis bagi orang yang lemah pikirannya, tetapi merupakan agama dari pejuang spiritual sejati, bagi orang yang siap untuk mengusahakan pembebasannya sendiri. Karena kemajuan duniawi, keberhasilan dan keuntungan, sebagian besar bergantung pada daya upaya kita sendiri, kita harus berjuang keras untuk melatih pikiran kita, sehingga mengembangkan apa yang terbaik yang terdapat dalam diri kita. Sebagai latihan mental dibutuhkan daya upaya yang paling keras, berjuang dari sekarang. "Jangan biarkan hari-harimu berlalu bagai bayangan awan yang buyar tanpa kenangan sedikit pun."
Perhatian Benar
Perhatian benar (samma sati) adalah unsur berikutnya, yang merupakan penerapan atau pengembangan kesadaran dalam hal; (a) kegiatan jasmani (kayanupassana), (b) perasaan (vedananupassana), (c) keadaan pikiran (cittanupassana) dan (d) fenomena pikiran atau obyek-obyek mental (dhammanupassana). Ajaran terkenal mengenai “Perenungan Perhatian” (Satipatthana-Sutta) berhubungan luas dengan empat jenis perhatian.
Sebagai unsur dari Jalan Mulia yang saling bergantungan, perhatian benar membantu daya upaya benar. Keduanya bersama-sama bekerja untuk mengawasi timbulnya pikiran-pikiran yang tidak baik dan mengembangkan pikiran-pikiran baik yang telah ada. Manusia mewaspadai perbuatannya dalam ucapan, tindakan jasmani dan pikiran, menghindari semua hal yang mengganggu kemajuan batinnya. Orang semacam itu bukanlah orang yang bermental malas dan pasrah.
Perhatian, kesadaran penuh dan pengertian jelas, merupakan jalan yang membawa seseorang mencapai keberhasilan dalam meditasinya. Ia yang sadar di setiap waktu sudah berada di gerbang Tanpa Kematian.
Perlu diingat bahwa Buddha menegaskan pentingnya perhatian dalam khotbah-Nya yang terakhir di hadapan para siswa-Nya: "Segala sesuatu yang terjadi dari paduan unsur adalah sasaran perubahan, Berjuanglah mencapai kebebasan dengan sadar, waspada.” (D. 16)
Perhatian dan kewaspadaan tanpa henti diperlukan untuk menghindari dari kejahatan dan melakukan kebaikan. Pikiran dan emosi kita memerlukan perhatian dan kewaspadaan tanpa henti untuk mengarahkannya pada jalan menuju kesucian. Melalui kegigihan dalam perhatianlah kemajuan batin dapat tercapai.
Banyak belajar tidak memberi keuntungan apa pun bagi si pelajar jika ia tidak memiliki perhatian. Bahkan orang terpelajar sekalipun tidak dapat melihat sesuatu dalam sudut pandang yang tepat, tanpa memiliki dan perhatian yang penting ini. Karena mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan terlebih dahulu dan tanpa mempertimbangkan akibatnya, manusia yang berkedudukan baik sering menjadi sasaran kritik yang keras dan beralasan. Ada pepatah yang berbunyi: "Kata yang telah diucapkan, kesmerpatan yang hilang seperti anak panah yang telah dilepaskan tidak pernah dapat ditarik kembali.”
Meditasi berhasil karena kerja sama dari ketiga unsur dasar Jalan Mulia ; daya upaya, perhatian dan konsentrasi. Inilah yang membentuk tiga jalinan tali. Namun, perhatian dianggap sebagai jalinan yang terkuat, karena memainkan peranan penting dalam memperoleh ketenangan dan pengertian ( samatha dan vipasanna). Perhatian adalah sebuah fungsi dari pikiran dan merupakan unsur dari pikiran. Disebut perhatian benar karena menghindari perhatian yang diarahkan secara salah. Perhatian menuntun pmiliknya pada jalan yang tepat menuju kesucian dan kebebasan.
Demikianlah, perhatian benar harus diterapkan dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang. Dalam setiap gerakannya, si pelaku meditasi diharapkan untuk selalu sadar. Apakah ia sedang berjalan, berdiri atau duduk, apakah ia sedang berbicara, diam, makan, minum ataupun menjawab panggilan alam dalam kegiatankegiatan ini dan dalam kegiatan lainnya ia harus penuh perhatian dan sadar. “Para Biku, perhatian Aku tegaskan diperlukan dalam setiap hal di mana pun juga."
Menyangkut hal ini harus dicatat bahwa dalam kitab-kitab Buddhis, kata perhatian (sati) sering kali digunakan bersama dengan kata lain yang sama pentingnya, “pengertian jelas” (sampajanna). Ungkapan gabungan satti-sampajanna acap kali ditemukan dalam berbagai khotbah. Perhatian dan pengertian jelas keduanya saling bekerja sama.
Seperti seorang manusia yang sedang berjalan dari tempat terang menuju ke ruang gelap, ia secara berangsur-angsur melihat benda di dalam ruangan itu, demikian pula seorang manusia ketika sepenuhnya bangun dan sadar akan memahami segala sesuatu dengan lebih baik dan membawa sifat sejatinya menuju penerangan. Sifat sejati dari segala sesuatu terselubung oleh kebodohan, tetapi perhatian benar menambah pengetahuan dan pengertian benar.
Deskripsi dari setiap jenis perhatian dalam khotbah "Perenungan perhatian" (satipatthana) diakhiri dengan kata-kata: “Ia hidup sendiri, tidak melekat pada apa pun di dunia.”15Hal ini merupakan hasil yang diharapkan oleh si pelaku meditasi, suatu prestasi dan kesungguhan dan ketekunan. Adalah sulit untuk tidak melekat pada apa pun di dunia, dan upaya kita untuk mencapai tingkatan yang tinggi itu mungkin saja tidak memberi hasil dengan segera. Namun, tetap saja bermanfaat bagi kita untuk terus-menerus berusaha. Suatu hari nanti, jika bukan dalam kehidupan im, maka dalam kelahiran yang akan datang, seseorang dapat meraih puncak yang dicapai oleh semua orang yang sungguh-sungguh berusaha. Seseorang pernah berkata, “Taburlah pikiran, dan engkau akan menuai perbuatan. Taburlah perbuatan, dan engkau akan menuai kebiasaan. Taburlah kebiasaan dan engkau akan menuai karakter. Taburlah karakter, dan engkau akan menuai nasib - karena karakter adalah nasib."
Konsentrasi Benar
Konsentrasi benar, unsur kedelapan dari Jalan Mulia, adalah memperkuat keteguhan pikiran yang dapat disamakan dengan api yang tidak berkelip dari sebuah pelita di tempat yang tak berangin. Konsentrasi (samadhi) menetapkan pikiran pada tempatnya dan membuatnya tak tergerak dan tak terganggu. Latihan yang benar dari konsentrasi mempertahankan pikiran dalam keadaan seimbang.Banyak rintangan batin yang dihadapi oleh si pelaku meditasi, tetapi dengan bantuan daya upaya benar dan perhatian benar, ia dapat menyingkirkan rintangan itu dan meperoleh konsentrasi sempurna. Pikiran yang terkonsentrasi dengan sempurna tidak terganggu oleh obyek-obyek indrawi, karena ia dapat melihat segala sesuatu menurut apa adanya.
Meditasi dalam agama Buddha dibagi menjadi dua sistem, konsentarsi pikiran pada ketenangan (Samadhi, samatha) dan pandangan terang (vipassana). Dari keduanya ini, konsentrasi berfungsi untuk menenangkan pikiran, dan karena alasan inilah dalam konteks tertentu samatha atau Samadhi diterjemahkan sebagai ketenangan. Menenangkan pikiran merupakan penyatuan atau “satu titik” pikiran, yang dihasilkan dari pemusatan pikiran pada satu obyek yang bermanfaat dengan menyampingkan hal-hal lain.
“Apakah konsentrasi itu ? Apa saja tanda-tanda, syarat-syarat dan pengembangannya?”
“Apapun bentuk penyatuan pikiran, itulah konsentrasi; empat pengembangan perhatian merupakan tanda-tanda konsentrasi; empat daya upaya benar adalah syarat-syarat konsentrasi; apapun latihannya, pengembangan serta peningkatan dari hal-hal ini, itulah pengembangan konsentrasi”16
Pernyataan ini dengan jelas menandakan bahwa ketiga unsur dalam kelompok samadhi, yaitu daya upaya benar, perhatian dan konsentrasi benar saling bekerja sama untuk menghasilkan konsentrasi sejati.
Banyak orang di masa kini yang menganggap kebebasan dan tak terikat adalah kata yang sama artinya. Kecenderungan materialistis dalam kebudayaan modern, yang dikuasai oleh hawa nafsu, menyebabkan mereka berpikir bahwa penaklukan diri sendiri (pikiran) menghalangi pengembangan diri. Namun, dalam ajaran Buddha, sangatlah berbeda. Buddha menyatakan bahwa diri sendiri harus ditaklukkan dan dijinakkan pada jalan yang benar jika sungguh-sungguh ingin menjadi baik. Menjaga pikiran dari perbuatan yang dihasilkan oleh nafsu, kebencian dan kebodohan ini adalah jalan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan sejati.
Hanya ketika terkendali dan dijaga di jalan yang benar menuju kemajuan secara tertib, maka pikiran akan berguna bagi pemililnya maupun orang lain. Semua bencana yang terjadi di dunia dibuat oleh manusia yang belum mempelajari cara mengendalikan, menyeimbangkan dan menenangkan pikiran. Pengendalian pikiran merupakan kunci menuju kebahagiaan, yang merupakan raja dari segala kebajikan dan kekuatan di balik semua prestasi sejati. Karena kurangnya pengendalianlah yang meneybabkan berbagai konflik timbul dalam pikiran manusia. Jika seseorang ingin mengendalikannya ia harus belajar untuk tidak memberikan kekuasaan penuh kepada keinginan-keinginan dan dorongan hatinya, dan harus mencoba untuk hidup dengan menguasai diri, suci dan tenang.
Ketenangan bukanlah kelemahan. Sikap yang tenang di setiap waktu menunjukkan manusia beradab. Sungguh keliru bila membayangkan mereka yang bersemangat dan sangat kuat adalah mereka yang bersik, pemberang dan cerewet.
“ Ya, yang kosong itu nyaring bunyinya, namun yang penuh sempurna itu tenang; Orang dungu adalah tempayan yang setengah isi, Orang bijaksana adalah sebuah telaga.” ( Sn.721)
Seorang manusia yang melatih ketenangan pikiran jarang terganggu ketika menghadapi perubahan dalam kehidupan. Ia mencoba untuk melihat segala hal dari sudut pandang yang sebenarnya, bagaimana mereka muncul dan lenyap. Bebas dari kecemasan dan kegelisahan, ia akan mencoba untuk melihat kelemahan dari mereka yang lemah. “ Ketenangan pikiran ….. terus berlanjut, dalam keberuntungan ataupun kemalangan, pada langkah mereka sendiri, seperti sebuah jam di saat terjadi badai. ( R.L. Stevenson ).
Tidak banyak perbedaan pendapat mengenai ketenangan pikiran dan penyempurnaan kehidupan yang menuntun kita mencapai hasil yang kita inginkan, tetapi setiap perbuatan yang berdasarkan penolakan murni, setiap usaha melepaskan diri kita dari sasaran keinginan, menuntun kita menuju ketenangan dan kemurnian.
Jalan yang ditunjukkan oleh Buddha untuk mengembangkan diri dari dalam adalah meditasi. Segala bentuk meditasi yang dibicarakan agama Buddha menuntun menuju kesehatan batin, tidak pernah menimbulkan penyakit, karena semuanya menghilangkan ketegangan yang menyakitkan pikiran, dan membersihkannya dari kotoran.
Pikiran – pikiran yang sangat penting hanya dapat timbul dalam ketenangan jangka panjang. Kesunyian memungkinkan pikiran manusia untuk memperoleh kekuatan dan kemampuan. Daya cipta terbesar bekerja dalam kesunyian, tetapi orang – orang sepertinnya lebih menyukai kegaduhan daripada kesunyian. Sebagian besar orang begitu asyik dengan pekerjaan sehari – hari sehingga mereka mengabaikan pentingnya perenungan dalam hati. Ketika kita tertarik ke dalam kesunyian, kita sepenuhnya sendirian dan bebas untuk melihat diri kita sendiri sebagaimana yang sesungguhnya ; kita berdiri berhadap – hadapan dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga kita dapat belajar untuk mengatasi kelemahan dan keterbatasan kita. Akan tetapi kita sering kali menyibukkan diri sendiri bagaikan seekor bajing di dalam kandang yang berputar, walaupun sangat sibuk, namun bajing itu hanyalah memutarkan kandangnya saja. Kemudian ayam betina di atas telur – telurnya, walaupun tampaknya tidak sibuk dan bermalas – malasan, ayam betina itu melakukan sesuatu yang berguna ; ia sedang mengerami telur – telurnya sehingga anak ayam dapat menetas. Kita harus mencoba untuk menghabiskan paling sedikit setengah jam sehari dengan menyibukkan diri seperti ayam betina di atas telur – telurnya.
Meditasi harus dilakukan secara teratur, pada waktu yang tetap, dengan bersungguh – sungguh. Janganlah kita mengharapkan hasil yang cepat, karena perubahan jiwa terjadi sangat lambat. Dengan melalui latihan dalam perenungan ketenangan maka ketenangan pikiran dapat dicapai – atta manasa ( pikiran yang dimiliki seseorang ) adalah istilah untuk pandangan batin yang berbahagia, hasil dari usaha keras dan prestasi yang dilakukan seseorang. Sedangkan keadaan batin yang menyedihkan dialami seseorang karena terbenam oleh pikiran – pikiran yang mengandung ketamakan, kebencian, kebodohan, kebanggaan, kecemburuan dan lain – lain adalah anatta manasa ( pikiran yang lain ).
Kebijaksanaan Sejati
Dengan menguasai pikiran melalui konsentrasi, si pelaku meditasi juga memperkuat kebijaksanaan sejati ( panna ), yang terdiri dari dua unsur pertama, pengertian benar dan pikiran benar, kelompok akhir dari Jalan Mulia.
Pikiran benar ( samma samkappa ) termasuk di dalamnya pikiran melepaskan ( nekkhama samkappa ), kemauan baik ( avyapada samkappa ), dan belas kasihan atau tanpa kekerasan ( avihimsa samkappa ). Pikiran – pikiran tersebut harus ditanamkan dan dikembangkan terhadap semua makhluk hidup tanpa membedakan ras, kasta, suku, jenis kelamin ataupun agama. Mereka harus mencakup semua makhluk hidup, tanpa dibatasi prasangka. Memancarkan pikiran – pikiran yang mulia seperti itu tidaklah mungkin bagi orang yang mementingkan diri sendiri dan egois.
Jika kita memandang segala hal dengan ketenangan, maka kita dapat memahami bahwa keinginan egois, kebencian dan kekejaman tidak dapat bersekutu dengan kebijaksanaan sejati. Pengertian benar atau kebijaksanaan sejati selalu ditembus dengan pikiran benar dan harus dengan itu. Di sisi lain, pikiran benar merupakan hasil dari pengertian benar. Keduanya berisi kebijaksanaan yang dibicarakan dalam hubungannya dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pikiran benar merupakan hasil dari memahami segala hal menurut apa adanya. Pikiran sangatlah penting, karena kata – kata dan perbuatan kita bersumber dari pikiran. Pikiranlah yang diterjemahkan ke dalam ucapan dan perbuatan. Hasil yang baik ataupun buruk dari kata – kata dan perbuatan kita semata – mata bergantung pada cara kita berpikir. Sebab itulah penting untuk belajar berpikir secara benar, bukan berpikir keliru dan sembrono.
Marilah kita sekarang mencoba untuk mengerti pentingnya memusnahkan pikiran – pikiran jahat dan cara melakukannya, yang dicapai melalui latihan melepaskan, kemauan baik dan belas kasih secara tepat. Ketika pikiran kita dirasuki oleh nafsu atau kebencian, sangatlah tidak mungkin bagi kita untuk melihat segala sesuatu secara jelas. Akan tetapi pemusnahan rintangan – rintangan tersebut bukan berarti memerangi pikiran – pikiran jahat yang mencengkeram pikiran kita. Setiap orang harus belajar untuk melihat secara berhadap – hadapan dengan pikiran seperti itu – bagaimana pikiran itu muncul, mkembali dan menguasai pikiran ; setiap orang harus mempelajari sifat – sifatnya. Jika kita mengizinkan pikiran kita untuk terus menerus memiliki pikiran yang penuh nafsu dan kebencian, dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, maka pikiran – pikiran itu akan bertambah kuat dan tetap menguasai pikiran. Akan tetapi jika kita sungguh – sungguh berusaha memusnahkan pikiran jahat, dengan berusaha secara bertahap untuk memperkuat pikiran – pikiran baik maka akan memusnahkan pikiran – pikiran berbahaya. Contohnya ketika kita terpengaruh oleh pikiran yang gemar akan hawa nafsu, pikiran – pikiran melepaskan keduniawian akan membawa kedamaian pikiran pada kita. Demikian pula, kemauan baik dan belas kasih akan menenangkan pikiran yang menyenangi kemauan jahat, kemarahan, kekejaman dan balas dendam. Namun, menguasai pikiran bukanlah tugas yang mudah, untuk itu diperlukan banyak keteguhan hati dan usaha.
Dalam agama Buddha, kemauan baik ( avyapada ) menunjukkan persahabatan tanpa perasaan suka pada hawa nafsu. Istilah populer untuk kemauan baik di antara umat Buddha adalah metta ( Skt. Maitri ). Tidak ada kata dalam bahasa Inggris yang dapat menyatakan artinya secara tepat. Keramah – tamahan, kebajikan, cinta kasih yang universal dan kasih sayang merupakan terjemahan yang paling sering digunakan. Metta menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh makhluk hidup tanpa ada pembatasan apa pun.
Belas kasih atau tanpa kekerasan ( avihimsa ) bukanlah keadaan emosional dari pikiran yang lemah, tetapi merupakan sifat yang kuat dan lestari. Saat seseorang menghadapi kesulitan, hati manusia yang sungguh – sungguh berbelas kasihan akan tergetar, dan mendorongnya bertindak untuk menolong yang memderita, dan hal ini memerlukan kekuatan pikiran. Orang – orang yang secara gegabah menyatakan bahwa belas kasih merupakan ungkapan kelemahan jelas tidak memahami apa yang mereka bicarakan. Menurut mereka kekerasan pastilah merupakan tanda – tanda kekuatan.
Pengertian benar ( samma ditthi ), dalam arti pokoknya adalah memahami kehidupan sebagaimana yang sebenarnya. Untuk itu seseorang perlu mengerti secara jelas mengenai Empat Kebenaran Mulia. Dengan memahami kebenaran – kebenaran tersebut berarti memahami seluk beluk kehidupan. “ Seseorang yang sepenuhnya memahami kebenaran – kebenaran ini sesungguhnya disebut bijaksana berdasarkan intuisi “.
Pengertian benar sangatlah penting, karena menuntun ketujuh unsur lain dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. 18Pengertian benar memastikan kebenaran pikiran dan keselarasan gagasan. Ketika pikiran dan gagasan menjadi jelas dan bermanfaat, ucapan dan perbuatan akan mengikuti pemimpinnya. Pengertian benar juga menyebabkan seseorang menghentikan usaha yang tanpa hasil dan mengusahakan daya upaya benar yang membantu mengembangkan perhatian benar. Daya upaya benar dan perhatian benar, dengan dituntun oleh pengertian benar, menyebabkan unsur – unsur lain dari sistem itu bergerak ke dalam hubungan yang tepat.
Pembaca yang cermat selanjutnya akan mampu memahami bagaimana ketiga kelompok, moral kebajikan, konsentrasi dan kebijaksanaan bekerja sama menuju satu tujuan bersama, pembebasan pikiran ( ceto – vimutti ). Melalui pengembangan pikiran dan pengendalian perbuatan, baik dalam tindakan jasmani dan ucapan secara sungguh – sungguh, seseorang yang mencari akan menemukan kesucian. Melalui usaha sendiri dan pengembangan diri sendiri ia terjamin mencapai kebebasan. Sesungguhnya ini adalah Dharma yang ditemukan oleh Buddha, yang telah dilaksanakan oleh Beliau untuk mencapai Penerangan Sempurna, dan dibabarkan kepada orang lain.
Telah ada banyak masalah di dunia sejak dahulu kala. Setiap masa memiliki masalah sendiri, dan sikap kita dalam menghadapi masalah – masalah itu berbeda – beda ; banyak pemecahan yang telah di coba. Jalan Mulia Berunsur Delapan mereduksi masalah – masalah ini menjadi satu, yang oleh Buddha disebut dukkha. Beliau menjelaskan bahwa penyebabnya adalah avijja, kebodohan, dan tanha, nafsu keinginan. Kini pertanyaannya adalah : Sudahkah manusia modern menemukan pemecahan dari permasalahan ini, atau malah sebaliknya ? Apakah manusia sekarang hidup dalam kebahagiaan dan aman ataukah dalam ketakutan dan kegangan yang terus menerus ? Apakah ia mengikuti jalan yang menuju kesehatan jiwa atau yang menuju kegilaan ?
Marilah sekarang kita melihat apakah Jalan Tengah itu. Jalan Tengah terdiri dari delapan unsur : pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, konsentrasi benar. Unsur manakah yang dapat kita sisihkan sebagai barang usang dan tidak menghasilkan kemajuan jasmani dan rohani bagi manusia ? Unsur manakah yang merintangi perkembangan duniawi manusia atau sebaliknya ? pastilah hanya orang berpikiran buruk yang akan menyatakan bahwa jalan Mulia Berunsur Delapan sudah ketinggalan zaman. Walaupun kuno, Jalan Mulia Berunsur Delapan memiliki kesegaran abadi. Semua masalah dalam kehidupan yang menerpa manusia dapat dirangkum menjadi satu masalah, yaitu dukha, pertentangan atau ketidak puasan. Pemecahan untuk masalah ini yang dikemukakan oleh para Buddha atau yang telah mencapai Penerangan Sempurna di segala zaman adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan. Sebagaimana bukti nyata hanya terdapat di dalam pengelaman yang sebenarnya, demikian pula bukti dari pemecahan masalah ini terletak pada pelaksanaannya.
Jalan Mulia Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Buddha terbuka bagis emua orang. Tak ada perbedaan dalam Nirwana. Mengenai jalan ini yang dibandingkan dengan sebuah kereta, Buddha berkata :
“Bagi siapa saja, wanita, pria Kereta itu menunggu, dengan kereta yang sama Mereka akan mencapai Nirwana.”Kindred Sayings, I, h. 45
T.W. Rhys Davids, presiden pendiri Pali Text Society, London , menulis:
“Buddhis ataupun bukan, telah aku telaah setiap agama besar di dunia tidak satupun di dalamnya ditemukan sesuatu yang melampaui keindahan dan kelengkapan Jalan Mulia Berunsur Delapan dari agama Buddha. Aku senang membentuk hidupku sesuai dengan jalan ini.
“Jadilah penuh cinta dan belas kasihDan terkendali dengan baik dalam jalan kebajikan, Kuat, berusaha mencapai tujuan, Dan maju ke depan dengan penuh keberanian. Bahaya terletak pada pemalas, Ketekunan itu pasti dan aman; Inilah ketika kau lihat, lalu kau perkuat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka akan kau capai Jalan tanpa kematian, wujudkan bagi dirimu sendiri.” Theragatha, 979, 980

Catatan :
S,i.13 Iti. I, ii, v. S. I. 40 S. v, 420; Vin. I, 10 D. Sutta No. 16 A. iii, 254 M. 27, 38 dan passim. Dhp. 100 A. I, 261 Mark Gilbert, Wisdom of the Ages ( London : 1948 ), h. 48 John Walters, Mind Unshaken ( London : Rider & Co., 1961 ), h. 47 D. ii, 178 S. I, 100 A. ii, 17 S. v, 115 M. 44/I, 301 M. 43/I, 292 M. 117 / III, 76 Sumber :
SPEKTRUM AJARAN BUDDHAKumpulan Tulisan Mahathera PiyadassiPenerbit : YAYASAN PENDIDIKAN BUDDHIS TRI RATNA

No comments: