Monday, May 4, 2009

PATTIDANA

Kita bisa hidup di dunia ini atas jasa mahkluk lain, terutama orang tua dan kerabat serta sahabat kita. Tidak ada yang hidup di dunia ini tanpa punya hutang budi dan terima kasih kepada mereka, terutama orang tua. Orang tua ibarat brahma dan guru pertama bagi anak-anaknya. Orang tua disebut brahma karena mereka meneladani ketidak terbatasannya dalam hal cinta kasih dan kasih sayang serta ikut gembira saat anaknya berhasil. Disebut guru pertama, orang tua mengajarkan hal-hal pertama dan utama: keterampilan hidup, moralitas, kejujuran, ketekunan, kerja keras, dll. Kerabat dan Sahabat kemudian mengasah lebih lanjut kemampuan kita agar makin berkembang dan agar kita kemudian berkontribusi terhadap masyarakat.
Tidak heran kita mempunyai berbagai kewajiban terhadap mereka. Salah satunya adalah membagi jasa pada mereka bila telah meninggal atau pattidana. Namun sayang sekali, banyak yang tidak memahami arti pattidana ini apalagi melaksanakannya. Banyak kesalah pahaman dalam memahami pattidana ini. Alih-alih dilakukan dengan pengertian yang benar, pattidana dilakukan sekedarnya dalam bentuk upacara, sembahyang, dan sejenisnya.
Pattidana berarti ’memberi apa yang telah kita capai’. Pattidana sering diterjemahkan sebagai membagi jasa. Namun terjemahan ini juga mengandung kelemahan. Karena menurut Dhamma kamma tidak bisa dibagi atau ditransfer, kita memiliki kamma kita sendiri, mewarisi kamma kita sendiri, lahir dari kamma kita sendiri, berhubungan dengan kamma kita sendiri, terlindung oleh kamma kita sendiri, apapun kamma yang kita perbuat, baik atau buruk itulah yang akan kita warisi.
Dalam pattidana, yang kita lakukan sebenarnya adalah mengajak sanak keluarga (ataupun makhluk lain) yang telah meninggal untuk ikut berbahagia atas kebajikan yang telah kita lakukan. Kita mengajak mereka untuk membuat sebab baik (kusala citta kamma) dengan bergembira. Jadi ada usaha aktif dari mereka untuk ikut bergembira. Saat mereka bergembira, keadaan gembira yang kuat itulah yang membuat mereka yang terlahir kembali di alam menderita (apaya bhumi) meninggal. Dan karena keadaan pikiran mereka saat meninggal diliputi kegembiraan dan kebahagiaan, maka tujuan alam sesudah kematian mereka di alam menderita itu adalah terlahir di alam bahagia, alam manusia atau deva.
Karenanya, sebelum melakukan pattidana, kita harus lebih dulu memiliki kebajikan yang akan kita ’bagikan’. Makin menderita alam tempat mereka dilahirkan, makin besar kebajikan yang harus kita lakukan untuk kita baktikan pada mereka agar mereka bisa membangkitkan cukup energi kegembiraan yang kuat bagi mereka sendiri. Dan syarat berikutnya adalah mereka ikut bergembira atas kebajikan yang kita lakukan dan kita baktikan pada mereka. Ibarat orang yang sedang jatuh ke sumur yang dalam, dibutuhkan tangga, galah atau tali yang panjang untuk menyelamatkan mereka. Namun mereka juga perlu usaha untuk merengkuh dan naik tangga, galah dan tali itu agar mereka dapat keluar dari sumur.
Bagaimana kalau mereka tidak ikut bergembira dengan kebajikan yang kita lakukan atas nama mereka? Tentu saja mereka tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari pattidana tersebut. Mereka mendapat manfaat atau tidak, kita sebagai pelaku kebajikan akan tetap menerima hasil kamma baik tersebut. Atau bila mereka mempunyai pengertian salah, malah kecewa dan marah karena misalnya dana yang kita lakukan dianggap menghamburkan kekayaan yang telah susah payah mereka kumpulkan sewaktu hidup? Alih-alih mendapat manfaat, mereka malah terperosok lebih dalam lagi di alam yang lebih menderita. Jadi pengertian yang benar pun dibutuhkan dalam proses pattidana ini.
Bagaimana seandainya kebajikan tersebut tidak cukup besar atau tidak kita baktikan pada mereka apakah mereka mendapat manfaat? Dua cerita dibawah ini baik untuk memberikan gambaran. Cerita pertama berasal dari tradisi Mahayana yang terdapat di Ullambana Sutra. Ketika Arahat Mogalana mencari ibunya yang telah meninggal, dengan kekuatan batinnya Arahat Mogalana melihat bahwa ibunya terlahir di alam peta dengan mulut yang sangat kecil seukuran lubang jarum, namun memiliki perut sangat besar.
Makhluk tersebut yang dulunya adalah ibu dari Arahat Mogalana sangat menderita karena terus menerus kelaparan. Apapun makanan yang mendekat ke mulutnya berubah menjadi bara api kemudian terbakar menjadi abu. Demikian pula air yang hendak diminum, ketika mendekat ke mulutnya terbakar habis. Hal ini disebabkan karena kamma buruk ibunya yang lalu menghina Tiratana, tidak yakin akan hukum kamma dan rakus serta cepat marah.
Melihat hal ini, sebagai anak dan sebagai Arahat, timbul belas kasihnya. Arahat Mogalana kemudian menyediakan makan dan minum untuk ibunya dengan kekuatan batinnya. Namun ketika makanan itu mendekati mulut ibunya yang sekecil lubang jarum, berubah menjadi bara api dan kemudian menjadi abu. Demikian pula air yang disediakan, ketika hendak diminum kemudian mendidih dan menguap sebelum sempat diminum.
Akhirnya Arahat Mogalana menghadap Sang Buddha dan meminta nasihat apa yang harus dilakukan. Sang Buddha menyarankan Arahat Mogalana untuk berdana pada Sangha para Arahat yang akan berkumpul saat purnama di bulan ke-7 dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya. Sesuai dengan nasihat Sang Buddha, Arahat Mogalana kemudian menyiapkan dan mendanakan makanan minuman, jubah dan kebutuhan lainnya kepada Sang Buddha dan para Arahat yang sedang berkumpul dan kemudian membaktikannya kepada ibunya. Barulah saat itu, ibunya juga mendapat makanan, minuman, pakaian, dan lainnya.
Cerita kedua terdapat di Paramatthajotika (Ilustrator Arti Tertinggi) yang merupakan kitab komentar Khuddakapatha. Disana diceritakan, 92 kalpa yang lampau sekelompok orang mengkorupsi apa yang seharusnya dipersembahkan kepada Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha Phussa. Sebagai akibatnya mereka dilahirkan di alam-alam neraka selama 92 kalpa. Di kalpa yang sekarang, saat Buddha Gotama, mereka terlahir kembali di alam peta dan menunggu jasa kebajikan yang akan dilakukan oleh Raja Bimbisara dari Magadha yang dulunya adalah kerabatnya. Telah diprediksikan oleh Buddha Kassapa sebelumnya bahwa lewat Raja Bimbisara lah mereka akan mampu mendapatkan makanan, minuman dan sebagainya.
Tujuh minggu setelah pencerahan, Sang Buddha Gotama pergi ke Benares, ibukota kerajaan Magadha. Raja Bimbisara setelah mendengar Dhamma dan menjadi pemenang arus, mendanakan makanan kepada Sang Buddha namun tidak membaktikannya untuk kerabatnya yang terlahir di alam menderita tersebut. Karena mereka merasa kecewa, mereka membuat suara-suara yang menyeramkan di malam hari. Ketika hal ini diceritakan kepada Sang Buddha, Raja Bimbisara baru mengetahui sebab dan bagaimana menyelesaikannya.
Kemudian Raja mengundang Sang Buddha beserta Sangha untuk menerima dana air, makanan, pakaian yang berlimpah dan tempat tinggal. Raja kemudian membaktikan setiap persembahan itu untuk kerabatnya. Barulah saat itu mereka mendapat manfaat dari jasa kebajikan yang dibaktikan kepada mereka. Di akhir persembahan, Sang Buddha memberikan khotbah Tirokuda Sutta yang merupakan ringkasan ajaran akan peristiwa itu.
Kedekatan hubungan dengan yang meninggal juga merupakan fator lain yang perlu diperhatikan. Karena itu, proses pattidana sebaiknya mengikutsertakan orang-orang yang memiliki kedekatan hubungan dan emosi dengan mereka yang meninggal, karena proses ajakan bergembira akan makin kuat dibandingkan dengan yang tidak dikenal sama sekali. Sayangnya justru dalam proses pattidana yang umum dilakukan, semuanya diatur dan dilaksanakan oleh orang lain. Keluarga hanya tau beres saja, toh sudah ada yang mengurus.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepada siapa kebajikan itu dilakukan. Seperti contoh dalam cerita ibu Arahat Mogalana, dibutuhkan pasamuan Sangha para Arahat dan Sang Buddha baru efektif bisa membantu ibunya untuk terlahir di alam yang lebih baik. Beberapa bhikkhu saja tidak cukup kuat, bahkan beberapa Arahat pun belum cukup kuat. Tentu saja, jaman sekarang sangat sulit untuk bisa menemukan seorang Arahat apalagi pasamuan Sangha para Arahat dengan dipimpin oleh seorang Buddha. Namun untuk lebih maksimal, lakukanlah kebajikan kepada mereka yang moralitasnya tinggi dan jumlahnya cukup besar. Tentu juga sesuai dengan kemampuan si pelaku kebajikan. Apakah kerabat yang meninggal mampu mendapat manfaat atau tidak, pelaku kebajikan tetap akan menikmati hasilnya. Jadi, lakukanlah kebajikan sebanyak mungkin.

No comments: