Wednesday, June 2, 2010

VESAK CELEBRATION IN THAILAND

Simak kisah berikut ini agar kita tahu betapa seorang umat Buddha patut mengembangkan upaya-upaya perdamaian dunia. Artikel ini saya ambil dari BHAGAVANT.COM dengan kisah lengkap sebagai berikut:

Bangkok, Thailand – Vesak atau Waisak yang memperingati kelahiran Pangeran Siddhattha, pencerahan Petapa Gotama, dan parinibbana Sang Buddha serta merupakan sebuah momen untuk refleksi diri, berdoa dan pemberian berkah bagi Thailand, tahun ini terguncang oleh krisis politik dan sosial dalam beberapa pekan terakhir dengan mengakibatkan kematian dan kerusakan. Hal ini dijadikan sebagai sebuah titik awal bagi bagi masyarakat Thailand untuk mengatasi tantangan dalam mencari kedamaian dan solidaritas, dan bagi bangsa-bangsa seluruh dunia yang harus menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Jepang telah berkolaborasi dengan Thailand dalam mengorganisir Konferensi Vesak Ke-7, sebuah acara yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendeklarasikan negeri gajah tersebut sebagai pusat dunia Buddhisme.

Perayaan Vesak tersebut diadakan pada 23 sampai 25 Mei dan tema utama memfokuskan pada perekonomian, diawali dengan slogan “Pemulihan Global: Perspektif Buddhis”. Pangeran Vajiralongkorn beserta istri, Putri Srirasmi, memimpin upacara pembukaan konferensi yang dihadiri oleh Somdet Phra Buddhacharya, Ketua Komite Eksekutif dari Sangha Agung Thailand. Bersama dengan 400 ketua Sangha dari seluruh dunia dan 1.300 pemimpin Buddhis mewakili 130 negara.

Phra Dharmakosajarn, rektor Universitas Mahachulalongkornrajavidyalaya (MCU), menekankan bahwa Sangha dan para bhikkhu sepakat pada kebutuhan akan melafalkan paritta dan meditasi untuk “memohon berkah Raja” dan “untuk memohon percepatan pemulihan bagi negara” atas penderitaan parah dari krisis sosial dan politik. Untuk alasan ini pada 25 Mei yang lalu di Buhhaamontol di propinsi Nakhon Pathom, sebuah puja bakti umum diadakan pada pukul 5 sore diikuti dengan penyalaan obor.

Enshin Saito, salah satu dari pembicara terkemuka dan seorang profesor di universitas di Jepang, menganalisa kontribusi pendidikan Buddhis dari sudut pandang perekonomian dan financial. Ia juga kembali mengingat akan kedatangan Paus Yohanes II ke Jepang pada tahun 1981, dimana saat itu Paus mengutip perkataan Saicho, pendiri Buddhisme aliran Tendai, yaitu “melupakan kepentingan diri sendiri dan bekerja demi kebaikan orang lain merupakan puncak dari belas kasih.” Saito mengatakan bahwa kita harus “dapat menerima peristiwa buruk atau kesulitan yang tak terduga” tanpa orang lain harus menanggung konsekuensinya.

Komandan militer Thailand, Jenderal Anupong Paojinda, menekankan bahwa “Buddha Dhamma merupakan filosofi yang tak ternilai untuk menjaga hati dan pikiran untuk melakukan kebikan, pengampunan, dan moralitas” dan Buddha Dhamma bermanfaat bagi individu dan masyarakat “secara keseluruhan”. Pimpinan Buddhis Tionghoa, Phra Mahaganacharayacheen Dharmasamadhivatra, menunjukkan bahwa ‘kontradisi antara manusia” dan “permasalahan yang berkaitan dengan sumber daya alam yang terjadi di seluruh dunia, disebabkan oleh “pemisahan antara pikiran manusa dan Dhamma”.

Sekitar 90% dari 62.2 juta masyarakat Thailand mempraktikkan Buddhisme Theravada yang dibawa dari India sekitar abad ketiga sebelum Kristus. Tradisi ini berdasarkan ajaran Buddha dalam Kitab Pali yang dikenal dengan Tipitaka, Tahun ini, bagi Thailand, perayaan Vesak dirayakan pada tanggal 25 Mei. (Aji)