Thursday, December 9, 2010

Kisah-Kisah Penghuni Surga (02)

1. PERTAMA : ISTANA TEMPAT DUDUK ( Pithavimana )

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana di Vihara Anathapindika, ketika Raja Pasenadi dari Kosala melakukan Pemberian-Dana yang Tiada-Bandingnya selama tujuh hari bagi Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya. Anathapindika – seorang bankir besar – juga memberikan dana selama tiga hari agar selaras dengan persembahan ( raja ) itu, sedangkan Visakha – seorang umat awam perempuan yang luhur – memberikan dana yang besar juga. Sesudahnya, berita mengenai Pemberian – Dana yang Tiada – Bandingnya itu menjadi terkenal di seluruh Jambudipa. Dari segala penjuru orang mengajukan pertanyaan, “ Apakah pemberian dana khususnya menghasilkan buah yang besar hanya bila jenis kedermawanan itu luar biasa, atau apakah lebih karena kedermawanan itu sesuai dengan kemampuan seseorang ? “

Ketika para bhikkhu mendengar pembahasan ini, mereka memberitahu Yang Terberkahi. Yang Terberkahi berkata, “Bukan hanya karena kualitas dana maka suatu pemberian khususnya menghasilkan buah yang besar, melainkan karena kualitas pemikiran dan kualitas ladang dari mereka yang menerima dana. Oleh karenanya, sekalipun dana itu kecil – misalnya segenggam nasi – kacang atau sepotong tikar atau hamparan rumput atau daun atau kacang di dalam air kencing ( ternak ) yang membusuk – namun bila diberikan dengan hati penuh bakti kepada orang yang pantas menerimanya maka akan muncul buah yang besar, keagungan yang besar, dan penyebaran yang besar “.

Demikianlah yang dikatakan oleh Sakka, pemimpin para dewa : “ Jika pikiran memiliki keyakinan, tak ada dana penuh bakti bisa dikatakan tak – bermakna. Bila diberikan kepada Tathagata, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, atau kepada seorang siswa “.

Cerita ini dikenal secara luas di seluruh Jambudipa. Orang memberikan dana sesuai dengan kemampuan mereka kepada para petapa dan brahmana, kepada pengemis, musafir, dan mereka yang kekurangan ; mereka menyediakan air minum di pekarangan – pekarangan, dan menaruh tempat duduk di gerbang – gerbang. Suatu ketika, seorang Thera dengan sikap yang sempurna datang untuk mengumpulkan dana makanan pada waktunya di sebuah rumah. Di sana , seorang perempuan luhur dari keluarga baik – baik menyambut dan menyapa beliau dengan hormat. Lalu dia membentangkan kain kuning yang telah disetrika di tempat duduknya sendiri dan memberikannya kepada beliau. Ketika melayani beliau dengan makanan yang mampu diberikannya sambil mengipasi beliau, perempuan itu berpikir dengan penuh keyakinan, “ Telah muncul suatu ladang jasa tertinggi bagiku “. Setelah sang Thera selesai makan, beliau membabarkan Dhamma tentang memberikan tempat duduk dan makanan, dsb. dan kemudian pergi. Ketika perempuan itu memikirkan dananya dan khotbah Dhamma tersebut, dia langsung tergetar karena bahagia. Lalu tempat duduk itu pun juga diberikannya kepada sang Thera.

Beberapa saat kemudian, dia meninggal karena suatu penyakit dan terlahir lagi di alam Tiga – Puluh – Tiga dewa di dalam Istana emas dua belas yojana dengan pengikut seribu peri. Dan karena pemberian tempat duduk itu, di sana muncul dipan emas selebar satu yojana untuknya, yang bisa terbang dengan cepat menembus langit, mirip rumah berpinakel. Karena itulah Istana ini disebut Istana Tempat Duduk. Karena tempat duduk yang diberikan itu ditutupi kain berwarna keemasan, maka Istana itu berwarna keemasan, yang menunjukkan kemiripan antara tindakan dan akibatnya ; karena tempat duduk itu diberikan dengan dorongan sukacita yang kuat, maka Istana itu pun bergerak dengan sangat cepat ; karena dana itu diberikan dengan rasa puas kepada orang yang pantas menerimanya, maka Istana itu bisa bergerak sesuai dengan kesenangannya ; karena kualitas keyakinan sukacita perempuan itu, maka Istana itu pun sungguh luar biasa dan berkilau.

Pada suatu hari festival, ketika para dewa pergi – masing–masing dengan kemampuan kekuatan surgawi yang dimilikinya – ke Hutan Nandana untuk bersenang – senang di tempat hiburan itu, dewi itu pun mengenakan pakaian dan hiasan dewanya, dan berangkat dengan diiringi oleh seribu peri pelayan. Dia masuk ke Istana Tempat Duduk itu dan pergi ke tempat hiburan dengan kekuatan yang besar. Pada saat itu, Y.M. Maha – Moggallana yang sedang mengunjungi alam – dewa, tiba di alam Tiga – Puluh – Tiga dewa. Beliau menampakkan diri di dekat devata itu. Ketika melihat beliau, dengan sukacita yang besar dan penghormatan yang besar dewi itu pun segera turun dari dipannya, menghampiri sang Thera, dan memberikan penghormatan berunsur lima . Lalu dia berdiri menghormat dengan tangan tertangkup yang dinaikkan, kesepuluh jarinya menyatu. Y.M. Maha – Moggallana memang memiliki berbagai kekuatan kebijaksanaan serta kemampuan pengetahuan tentang akibat – akibat dari tindakan yang sesuai. Karena itu beliau dapat melihat dengan jelas – seolah – olah mengamati sebutir buah myrobalan yang ditaruh di telapak tangannya – tindakan – tindakan baik dan buruk apa yang telah dikumpulkan oleh dewi itu beserta makhluk – makhluk lainnya. Walaupun demikian, begitu terlahir lagi para devata ini mengatakan, “ Dari alam apa saya meninggal untuk kemudian terlahir lagi di alam ini ?” “ Tindakan bajik apa yang telah saya lakukan untuk menerima keberuntungan ini ?”3 dan karena secara umum mereka sampai pada kesimpulan yang benar. Maka sang Thera – yang ingin memperjelas tentang buah tindakan kepada dunia beserta para dewanya – pun meminta agar dewi ini menceritakan tindakan yang telah dia lakukan.

Beliau berkata demikian :

1. “ Tempat dudukmu yang luar biasa dan terbuat dari emas, bergerak sesuka hati ( mu ) dengan kecepatan pikiran. Engkau berhias, mengenakan rangkaian bunga, berpakaian indah ; engkau bersinar bagaikan halilintar di tepian awan.

2. Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa ? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu ?

3. “ Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia ? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru ?”

4. Devata tersebut, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.

5. Ketika saya terlahir sebagai manusia di antara manusia, saya memberikan sebuah kursi kecil5 kepada seorang pengunjung,6 menyapanya dengan penuh hormat, mengangkat tanganku yang tertangkup, dan memberikan dana sesuai kemampuan saya.

6. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.

7. Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.”

Catatan :

Terbaca setthi. Secara Harfiah, ‘kepala', ‘ketua', yaitu pedagang atau pengusaha local, atau kelompok pedagang [edisi ke 1] pasada dan pasadika adalah kata-kata yang digunakan dengan kemiripan yang disengaja, sifat keadaan mental yang jernih dan cemerlang di sejajarkan denagn sifat kecantikan vimana itu. Pasada berarti kejernihan, kecemerlangan, kegembiraan, keluhuran, keyakinan, ketenangan…[Edisi ke 1] sampatti berarti keberuntungan, sukses, kebahagiaan, sukacita. vanna, di sini berarti warna kulit, khususnya warna keemasan, VvA. 16. Ny. RhD memilih ‘keelokan' karena di dalam konteks pengulangan di atas,'kulit keemasan' tampaknya tidak pantas-lihat Edisi ke 1, hal. 3,n.1. asanaka. VvA 24 mengatakan bahwa karena tidak berharga dan tidak hebat maka dia menggunakan kata ‘kecil'. abbhagatanam, bentuk plural digunakan disini sebagai penghormatan. Ada dua jenis pengunjung:tamu & orang yang asing. Yang pertama, orang yang dikenal, dan yang kedua, orang yang tidak dikenal. Di sini, yang dimaksudkan adalah orang yang tidak dikenal, VvA.24. Bandingkan AA.iii.247.