Thursday, December 9, 2010

Kisah-Kisah Penghuni Surga (03)

2. KEDUA: ISTANA TEMPAT DUDUK, KEDUA (Dutiyapithavimana)

Baik penjelasan maupun komentar mengenai cerita ini harus dipahami sama seperti cerita pertama. Hanya saja, inilah perbedaannya: Dikatakan bahwa seseorang perempuan yang tinggal di Savatthi melihat seorang Thera ketika beliau dating ke rumahnya untuk mengumpulkan dana makanan. Dengan pikiran yang penuh keyakinan, dia mempersembahkan sebuah kursi kepada beliau. Dia membentangkan kain biru di atas tempat duduknya sendiri dan mempersembahkannya kepada beliau. Maka ketika terlahir lagi di alam dewa, di sana muncul baginya Istana Dipan yang terbuat dari batu permata hijau- laut. Oleg sebab itulah dikatakan, “Tempat dudukmu yang luar biasa dan terbuat dari batu permata hijau-laut….”

“Tempat dudukmu yang luar biasa dan terbuat dari batu permata hijau-laut1, bergerak sesuka hati (-mu) dengan kecepatan pikiran. Engkauberhias, mengenakan rangkaian bunga, berpakaian indah; engkau bersinar bagaikan halilintar di tepian awan. Karena apakah keelokanmu sedemikian rupa ? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan disana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu? “Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagunganmu yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika teelahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokamu menyinari segala penjuru ?”

Devata tersebut, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu. “Ketika saya terlahir sebagai manusia diantara manusia, saya memberikan kursi kecil kepada seorang pengunjung, menyapanya dengan penuh hormat, mengangkat tanganku yang tertangkup, dan memberikan dana sesuai kemampuan saya. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera disini, dan disana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku. Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokankku menyinari segala penjuru.”