Thursday, December 9, 2010

Kisah-Kisah Penghuni Surga (38)

36. KEDELAPAN : ISTANA MALLIKA (Mallikavimana)

Yang Terberkahi, sang pelindung dunia, telah memenuhi tugas Buddha-nya sejak saat memutar roda Dhamma sampai pada waktu mengajar kelana spiritual yang bernama Subhadda. Dan menjelang fajar di malam purnama di bulan Visakha, di antara sepasang pohon sala di Upavattana, yaitu hutan sala dari raja-raja suku Malla di Kusinara, Beliau telah sepenuhnya padam dalam elemen nibbana (tanpa tersisa). Sementara penghormatan diberikan pada tubuhnya oleh para dewa dan manusia, ada seorang umat awam perempuan dari Kusinara yang bernama Mallika dari garis keturunan raja-raja Malla, istri Bandhula. Mallika adalah orang yang percaya, yang memiliki keyakinan. Maka dengan air yang harum dia mencuci seperangkat perhiasan berupa “perembat besar”’ yang menyerupai perangkat perhiasan umat perempuan agung Visakha,1 memolesnya dengan bantalan kain halus, dan dengan membawa sejumlah besar benda lain, wewangian, rangkaian bunga dan sejenisnya, dia pun memberikan penghormatan kepada sisa-sisa tubuh Sang Buddha. Inilah ringkasannya. Namun cerita Mallika muncul secara panjang lebar di dalam Kitab komentar Dhammapada.2

Setelah Mallika meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Karena telah memberikan penghormatan, dia memiliki sukacita-surgawi yang besar, yang tiada bandingnya. Baju, perhiasan, istana yang berkialu dengan tujuh permata, semuanya memancarkan sinar emas murni, terang benderang sehingga segala penjuru berwarna keemasan, seakan-akan ditebari dengan semprotan inti-emas.

Y.M. Narada, yang sedang mengunjungi alam dewa, melihatnya dan mendekat. Mallika menyapa baliau dengan hormat, dan berdiri dengan tangan tertangkup di hadapannya dengan sikap bakti. Beliau bertanya kepada Mallika:

1. “Putri dengan bendera dan pakaian kuning-keemasan, dengan perhiasan kuning-keemasan,3 dengan pakaian luar elok berwarna kuning-keemasan, engkau bersinar bahkan tanpa hiasan-hiasan (ini).

2. Siapakah engkau yang memakai hiasan lengn dan gelang serta berhias untaian emas di kepala, ditutupi jarring keemasan, bekalung untaian bebagai permata,

3. Benda-benda yang menjalin dengan emas dan dijalin dengan batu rubi, dijalin dengan mutiara dan dijalin dengan batu-batu permata hijau-laut, permata mata kucing dan rubi, berkilau dengan permata sejernih mata burung merpati?

4. Di sini terdapat suara, indah burung merak, raja angsa merah, disini suara manis burung tekukur – terdengar lagu mereka seolah-olah musik instrumen berunsur-lima sedang dimainkan.

5. Dan kereta kencanamu yang elok pun bersinar, sungguh indah dengan berbagai batu permata yang tertata, berbagai bentuknya terbagi dengan serasi.

6. Engkau yang bersosok keemasan, sambil berdiri di kereta kencana ini, devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini.”

Dan dia menjawab:

7. “Jaring keemasan yang kemilau karena batu permata dan emas, penuh dengan mutiara, bertutup jaring emas, telah saya persembahkan ketika Gotama, Yang Tak-Terukur, sepenuhnya padam.

8. Setelah melakukan tindakan bajik yang dipuji oleh Sang Buddha, saya kini bersukacita tanpa kesedihan, bahagia dan sehat.

Dan ketika konsili diadakan, hal ini diulang oleh Y.M. Narada4 kepada mereka yang menyusun Dhamma persis seperti percakapan antara beliau dan devata itu. Mereka (para penyusun) menambahkannya seperti apa adanya ke dalam Koleksi.