Friday, January 21, 2011

PINDAPATA

PINDAPATA

 

Pindapata berasal dari dua suku kata, yaitu: Pinda dan Pata. Pinda berarti gumpalan/bongkahan (makanan) dan Pata berarti yang dijatuhkan. Jadi dapat diartikan pindapata adalah bongkahan makanan yang dijatuhkan ke dalam mangkuk (patta) para bhikkhu.

 

Bagi bhikkhu yang menjalankan praktik keras (dhuthanga) harus melakukan pindapata sebagai salah satu peraturan praktiknya. Ada lima peraturan tentang makanan bagi bhikkhu yang menjalani praktik dhuthanga ini yaitu: tekad hanya makan dari hasil pindapata, menerima dana dari rumah ke rumah tanpa kecuali, makan tanpa selingan, memakan hanya makanan yang ada dalam mangkuk, dan tidak makan lagi setelah selesai makan.

 

Pada jaman dahulu, para petapa umumnya menerima dana makanan dari rumah-rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Begitu pula dengan Sang Buddha, setiap pagi Sang Buddha dan rombongan para bhikkhu pergi meninggalkan vihara, memasuki desa atau kota untuk ber-pindapata, pindapata ini merupakan suatu cara pendekatan masyarakat secara agama Buddha. Tak jarang ketika Sang Buddha dan para bhikkhu ber-pindapata, masyarakat tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Sang Buddha atau para bhikkhu, seperti Upatissa yang begitu terkesan melihat Bhikkhu Assaji yang sedang ber-pindapata atau Bahiya yang berpakaian kulit kayu (Bahiyadaruciriya) berjumpa Sang Buddha saat Beliau ber-pindapata dan memohon Sang Buddha untuk memberikan uraian Dhamma. Mereka berdua pada akhirnya tertarik untuk menjalani kehidupan kebhikkhuan, Upatissa kelak dikenal dengan nama Sariputta, namun kondisi karma buruk Bahiya berbuah, beliau meninggal diseruduk sapi (jelmaan Asura) ketika mencari perlengkapan kebhikkhuannya, tetapi Bahiya telah mencapai tingkat kesucian Arahat setelah mendengar beberapa kalimat Dhamma dari Sang Buddha.

 

Pada tahun ketiga, Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu atas undangan Raja Suddhodana. Beliau beserta rombongan bhikkhu berangkat dari Rajagaha ke Kapilavatthu. Sang Buddha beserta rombongan tiba di Kapilavatthu dan berdiam di Nigrodarama. Raja Suddhodana dan penduduk berduyun-duyun menemui Sang Buddha. Karena mengetahui bahwa para orang tua suku Sakya memiliki watak yang sombong, Sang Buddha menunjukkan keajaiban ganda kepada mereka. Api menyala di bagian atas tubuh Beliau dan air memancar dari tubuh bagian bawah dan sebaliknya. Setelah orang-orang suku Sakya dapat diyakinkan bahwa Sang Buddha telah mencapai ke-Buddha-an, kemudian Beliau duduk dengan tenang di tempat yang telah disediakan.

 

Raja Suddhodana menanyakan kabar Sang Buddha dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya kepada Beliau. Di akhir tanya jawab, Raja Suddhodana berhasil memperoleh mata Dhamma dan menjadi Sotapanna. Berhubung tidak mendapat undangan makan di istana, maka keesokan harinya Sang Buddha beserta rombongan memasuki kota Kapilavatthu untuk berpindapata. Penduduk kota menjadi gempar. Memang mereka sering melihat seorang petapa atau brahmana ber-pindapata, tetapi baru sekarang mereka menyaksikan seorang berkasta Khattiya, putra dari seorang raja, berpindapata. Berita ini sampai ke telinga Raja Suddhodana, dan raja segera menemui Sang Buddha dan menegur Beliau. "Mengapa anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapa anakku tidak datang saja ke istana untuk mengambil makanan? Apakah pantas seorang putra raja meminta-minta makanan di kota, tempat ia dulu sering berjalan-jalan dengan kereta emas? Mengapa anakku membuat malu ayahnya seperti ini?"

 

 

 

 

 

 

 

"Aku tidak membuat ayah malu, Oh Baginda. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kita," jawab Sang Buddha dengan tenang. "Apa kebiasaan kita? Bagaimana mungkin! Tidak pernah seorang anggota keluarga kita minta-minta makanan seperti ini. Dan anakku mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan kita?" "Oh, Baginda, ini memang bukan merupakan kebiasaan seorang anggota keluarga kerajaan, tetapi ini adalah kebiasaan para Buddha. Semua Buddha di jaman dahulu hidup dengan jalan mengumpulkan dana makanan dari para penduduk." Setelah Raja Suddhodana mendesak agar Sang Buddha beserta rombongan mengambil makanan di istana, maka berangkatlah Sang Buddha beserta rombongan ke sana.

 

Ada enam kewajiban yang harus dilakukan (kiccavatta) oleh bhikkhu atau samanera yang berpindapata. Enam kewajiban itu adalah:

1.      Ia harus mengenakan jubahnya dengan rapi.

2.      Ia harus meletakkan mangkuknya di bawah jubah (mangkuk terlindungi oleh jubah).

3.      Sebelum meninggalkan vihara, ia harus menyiapkan tempat duduknya, air minum, air pencuci tangan, pencuci kaki, pencuci mangkuk, dan perlengkapan kebhikkhuan lainnya.

4.      Ia melaksanakan pindapata sesuai dengan tata tertib 'Sekhiyadhamma'.

5.      Ia hendaknya penuh perhatian pada waktu berada di tempat penduduk.

6.      Ketika berpindapata, seorang pindapatacarika tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), maka setelah ia kembali ke vihara dan sebelum memakan dana makanan hasil pindapata-nya, ia harus mencuci kakinya terlebih dahulu.

 

Peraturan Pacittiya menjelaskan jika ada umat yang mengundang bhikkhu untuk menerima dana makanan, maka bhikkhu itu dapat menerima tiga mangkuk penuh apabila ia mau. Apabila ia menerima lebih dari tiga mangkuk, maka ia melanggar peraturan Pacittiya. Makanan yang ia terima itu harus pula dibagi kepada bhikkhu lain. Seorang bhikkhu juga dilarang untuk makan di luar waktu yang telah ditentukan (lewat dari tengah hari). Jika melakukan hal ini, maka ia melanggar Pacittiya.

 

Dalam Pindapataparisuddhi Sutta, Majjhima Nikaya, Sang Buddha memberikan nasehat kepada para bhikkhu agar selalu menjaga diri sehingga pikiran mereka tetap murni ketika sedang ber-pindapata atau sedang makan yaitu dengan cara membuang nafsu keinginan, menghapus penghalang, serta mengembangkan pengetahuan tentang Tujuh Faktor Penerangan Sempurna lewat perjuangan yang terus-menerus. Bagi seorang bhikkhu, ada perenungan yang harus dilakukannya ketika ia menggunakan empat kebutuhan pokok, yaitu perenungan sebelum penggunaan dan perenungan setelah penggunaan. Ia harus merenungkan tujuan sebenarnya dari penggunaan kebutuhan itu, yaitu untuk mengurangi keserakahan yang muncul dari kebodohan dan kebencian, agar menimbulkan pengertian yang benar dari penggunaan empat kebutuhan pokok itu tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

 

Dalam Anguttara Nikaya IV.57, Sang Buddha memberikan khotbah singkat kepada seorang wanita dari suku Koliya, Suppavasa. Ia adalah ibu dari Bhikkhu Sivali, Arahat yang paling beruntung. Khotbah ini disampaikan setelah Beliau menerima dana makanan darinya. "Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya. Apakah yang empat itu? Dia memberikan usia panjang (ayu), keelokan (va¤¤o), kebahagiaan (sukha), dan kekuatan (bala). Dengan memberikan usia panjang, dia sendiri akan memiliki usia panjang. Dengan memberikan keelokan, dia sendiri akan memiliki keelokan. Dengan memberikan kebahagiaan, dia sendiri akan memiliki kebahagiaan. Dengan memberikan kekuatan, dia sendiri akan memiliki kekuatan. Keempat pahala ini akan diperolehnya secara manusiawi (duniawi) dan surgawi. Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal ini kepada penerimanya."

 

Merupakan kewajiban bhikkhu (vatta), setelah menerima dana makanan membacakan Anumodana Gatha atau khotbah Dhamma singkat kepada umat yang berdana. Kalimat yang diucapkan biasanya berbunyi, "Ayu, Va¤¤o, Sukhaÿ, Balaÿ" artinya semoga anda panjang umur, cantik/tampan (elok), bahagia, dan kuat.

 

 

 

Created By Mr. Aji Nugroho, S.Ag. untuk Mencerahkan Diri dan Orang Lain