Friday, February 24, 2012

Warisan Terkaya = Pendidikan

Warren Buffet dan Bill Gates silih berganti menjadi orang terkaya di dunia. Kekayaan mereka mencapai 40 miliar dollar AS. Kita pasti bisa membayangkan setinggi langit, gaya hidup yang dapat dilakoni seseorang denganharta sebanyak itu. Apa saja bisa dilakukan. Apapun bias dibeli. Tak ada yang mustahil didapat oleh mereka, selama masih bisa ditukar dengan uang.Dua orang terkaya di dunia, bisa berbelanja apa saja.

Tapi, bertolak belakang dengan persepsi orang, Buffet justru hidup sederhana. Tak ada keglamoran. Ia tak suka pesat berlebihan. Saking sederhannya, konon itu kerap membuat malu bawahan-bawahan Buffet yang justru punya gaya hidup dan pola membeli barang mewah.Sang majikan teryata lebih sederhana dari anak buah. Rumah tinggal Buffet bukan bangunan super mewah yang kerap masuk rekor dunia. Seperti rumah salah satu orang yang masuk jajaran terkaya di dunia, berasal dari India: mentereng, berlapis emas emas pada beberapa perabotnya. Buffet jauh dari pola seperti itu. Baju yang dikenakan Buffet juga tak gemerlap. Tidak seperti beberapa aksesori berbalut intan-mutiara yang sering dikenakan tokoh terkenal. Bagaimana dengan sepasang sepatunya? Buffet justru suka sepatu yang santai. Alhasil, banyaknya harta yang dimiliki Buffet, tidak ditampakkan melalui "performa fisiknya". Ia biasa-biasa saja ditengah keluarbiasaan financial yang dimilikinya.Yang ditonjolkan oleh Buffet lebih kepada "performa sosialnya". Buffet tercatat sebagai salah satu pengusaha yang paling aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Buffet menyumbang di berbagai lembaga sosial di beberapa negara. Ia juga donatur untuk lembaga sosial Bill Gates yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, dan sosial. Suatu waktu, ada satu peryataan menarik dari Buffet. Ia berkomitmen untuk menyumbangkan 80% kekayaannya untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan. Sisanya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya, dan kebutuhan anak-anaknya. Buffet menyatakan bahwa ia tidak akan mewariskan terlalu banyak harta pada anak-anaknya.

Yang 80% itu bukantermasuk yang masuk daftar warisan. Tujuannya, kata Buffet, agar anak-anaknya bisa tetap kreatif, inovatif, dan bekerja keras. (Kompas, 13/2/2012).Limpahan harta warisan yang berlebihan, kata Buffet, bisa membuat anak-anaknya terjebak dalam "fatalisme sosial". Warisan yang melimpah, menurut Buffet, potensial membuat anak cucunya terjebak pada pola hidup hedonis dan puas diri. Berada pada posisi dan kondisi "tertekan", adalah faktor yang bisa memicu motivasi seorang anak untuk berkarya. Tentu, banyak argumentasi yang bisa diajukan terhadap fenomena Buffet tersebut. Sebagian akan berkata, 20% dari harta Buffet sudah lebih dari cukup untuk mewairisi ketujuh turunannya, bukan hanya anak-anaknya saat ini. Sebagian dari kita yang lain juga bisa berargumen: tidakkah Buffet bisa "mendidik" anaknya untuk bisa bersikap mandiri, tetapi dengan tetap mewariskan semua hartanya?Tentu, Buffet tak sesempurna penggambaran diatas. Ada banyak celah untuk mengkritiknya. Tapi setidaknya Buffet memperlhatkan sebuah sikap yang bisa diteladani. Hidup sederhananya mencerminkan pelajaran penting: makna hidup tidak selalu didapat dari performa fisik, melainkan performa sosial. Itulah yang ditegaskan Buffet. Bagi Buffet, makna hiudp akan didapat, ketika kita bisa bermanfaat bagi yang lain. Ukurannya bukan harta yang menumpuk secara korporatif, tapi harta yang terdistribusi secara sosial kemanusiaan. Disitulah Buffet menemukan makna hidup.Pelajaran kedua dari Buffet: penanaman nilai edukasi pada kedua anaknya. Buffet tidak memberikan hartanya sebagai warisan utama buat anak-anaknya. Buffet justru mewariskan makna hidup kepada anaknya itu. Karena ia yakin, bisa memaknai hidup akan menyelamatkan anak-anaknya, ketimbang harta.Sekali lagi, dengan segala kelemhan dan kritikan yang bisa kita ajukan pada sosok Buffet, setidaknya kita bisa memetik sesuatu yang positif dari orang terkaya di dunia itu: warisan paling berharga adalah edukasi.