Thursday, August 23, 2012

MENGATASI KEBENCIAN

Kebencian atau rasa tidak suka terhadap sesuatu atau seseorang adalah wajar dimiliki oleh mereka yang belum mencapai kesucian. Kebencian timbul karena perasaan ingin menjauh dari sumber penyebab ketidaknyamanan dan ketidakbahagiaan.

Disamping memiliki kebencian, orang yang belum mencapai kesucian juga pasti memiliki ketamakan, yaitu rasa suka dan ingin selalu berdekatan dengan segala sesuatu atau seseorang yang menyenangkan dan sesuai harapannya.

Rasa benci dan tamak ini timbul dalam batin orang yang belum terbebas dari ketidaktahuan bahwa hidup selalu berubah. Apabila pada saat ini sesuatu atau seseorang terasa menyenangkan,  mungkin saja pada saat yang lain, ia tidak lagi menyenangkan, bahkan mungkin ia menjadi sangat menjengkelkan. Demikian pula sebaliknya. Semua rasa suka maupun tidak suka tersebut bisa terjadi karena segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Semuanya selalu berubah seiring dengan bertambahnya waktu.

Idealnya, adalah cukup membahagiakan kalau di rumah ada orang yang sudah mengenal Dhamma, seperti adik lelaki yang dimaksudkan di atas. Sayangnya, mengenal Dhamma, bahkan mampu berceramah Dhamma tidak selalu menjadi jaminan kualitas perilaku yang baik dan sesuai Dhamma. Dhamma yang dimengerti hanya secara teori atau dipraktekkan sehingga menjadi jalan hidup adalah sama sekali berbeda.

Seseorang bisa disebut sebagai umat Buddha apabila ia telah melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari, bukan ia yang telah mampu menghafalkan banyak teori Dhamma. Oleh karena itu, dalam pengertian Buddhis, adik lelaki yang dimaksud dalam pertanyaan di atas masih belum menjadi umat Buddha yang sesungguhnya. Ia baru menjalani tradisi Buddhis saja. Karena itulah, perilaku yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari mungkin masih belum sesuai atau bahkan jauh dari Dhamma Ajaran Sang Buddha.

Namun, perilaku buruk orang yang sudah menghafal teori Dhamma seperti itu hendaknya dapat dijadikan pelajaran agar diri sendiri di masa depan dapat terhindar dari periaku buruk sejenis. Artinya, apabila diri sendiri ingin belajar Dhamma, maka berusahalah sedikit demi sedikit untuk melaksanakan Ajaran Sang Buddha tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, semakin lama mengenal Dhamma, semakin baik pula perilaku yang ditunjukkan dengan badan, ucapan maupun cara berpikir. Dengan demikian, ia yang telah mengenal dan melaksanakan Dhamma akan mendukung terwujudnya kebahagiaan, ketenangan serta kedamaian untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Adapun untuk mengatasi timbulnya rasa saling membenci di antara anggota keluarga maupun masyarakat, hendaknya seseorang merenungkan salah satu Ajaran Sang Buddha yang menyebutkan bahwa kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian. Kebencian hanya akan berakhir dengan cinta kasih.

Oleh karena itu, apabila timbul kejengkelan atau bahkan rasa benci terhadap adik, paling sedikit ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu :

Pertama, pada saat batin sedang tidak senang kepada adik, atau ada pembicaraan dengannya yang kurang sesuai, maka berusahalah untuk berdiam diri terlebih dahulu. Hindari komunikasi lebih lanjut dengannya agar tidak memancing timbulnya pertikaian yang lebih dalam. Apabila berdiam diri dirasa masih kurang mampu menghindari masalah, maka usahakan untuk pergi ke tempat lain atau masuk ke ruangan lain terlebih dahulu sampai emosi reda. Mungkin sekitar 10 menit kemudian, setelah emosi reda, barulah menemui adik dan melanjutkan pembahasan yang mungkin tadi sedikit terganggu. Biasanya, setelah mampu meredakan emosi, pembicaraan yang dilanjutkan menjadi lebih fokus dan mungkin dapat mencapai kesepakatan yang membahagiakan semua fihak.

Kedua, apabila cara di atas terasa masih kurang mampu meredam gejolak emosi yang timbul saat itu, maka kondisikan untuk memiliki kebiasaan mengucapkan dalam batin secara berulang-ulang kalimat SEMOGA SEMUA MAHLUK SELALU HIDUP BERBAHAGIA. Ulangi kalimat ini sebanyak mungkin setiap harinya. Biasanya, paling sedikit setiap pagi bangun tidur dan malam hendak tidur. Dengan demikian, secara bertahap telah ditanamkan dalam batin pengembangkan pikiran cinta kasih. Bila hal ini dilakukan selama beberapa bulan, maka ketika timbul gejolak emosi dengan siapapun juga, termasuk adik, percikan pikiran yang muncul pada saat itu mungkin saja bukan lagi kemarahan ataupun kebencian, melainkan SEMOGA DIA BAHAGIA, SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA. Jika pikiran cinta kasih ini sudah mulai sering timbul dalam batin, maka perilaku buruk adik bukan lagi menjadi masalah. Justru mungkin akan timbul rasa kasihan dengan adik dan berusaha membimbing adik agar ia memiliki perilaku yang lebih sesuai Dhamma yaitu sabar dan penuh cinta kasih.

Dengan cara-cara seperti yang disampaikan di atas itulah, kebencian tidak lagi dibalas dengan kebencian. Kebencian justru dapat diselesaikan dengan cinta kasih. Hubungan persaudaraan akan lebih harmonis dan damai. Rumah tangga menjadi lebih bahagia.

Semoga saran ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pikiran cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud pelaksanaan Ajaran Sang Buddha.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.

Salam metta,
B. Uttamo


http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/tanya-jawab-dengan-bhikkhu-uttamo-01/